Marah saat Bangun Tidur? Ini Penjelasannya

  • 30 Sep 2026 13:20 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Dikutip Polished Mind Psychiatry (2026), seseorang dapat bangun dalam keadaan mudah marah karena berbagai faktor yang berkaitan dengan tidur, kondisi tubuh, tekanan emosional, dan kebiasaan sehari-hari. Kemarahan pada pagi hari dapat memengaruhi hubungan dengan orang lain, produktivitas, serta kondisi diri sepanjang hari sehingga penting untuk memahami penyebabnya.

Kualitas tidur menjadi salah satu faktor utama yang dapat memengaruhi suasana hati ketika seseorang bangun pada pagi hari. Tidur yang terganggu, sering terbangun, atau jadwal tidur yang tidak teratur dapat membuat otak kesulitan mengatur emosi sehingga seseorang lebih mudah merasa kesal meskipun sebelumnya tidak mengalami masalah yang jelas.

Tekanan emosional juga dapat terbawa ketika seseorang sedang tidur karena otak tetap memproses pikiran, kekhawatiran, konflik, dan berbagai tanggung jawab yang belum terselesaikan. Tekanan pekerjaan, masalah hubungan, kesulitan keuangan, atau kekhawatiran terhadap kegiatan yang akan dihadapi dapat membuat tubuh bersiap menghadapi tekanan dan akhirnya memunculkan rasa mudah marah setelah bangun.

Perubahan hormon juga dapat memengaruhi suasana hati pada pagi hari karena hormon berperan dalam mengatur energi, emosi, dan respons seseorang terhadap tekanan. Ketika perubahan hormon terjadi bersamaan dengan kurang tidur atau tekanan emosional, seseorang dapat menjadi lebih sensitif terhadap tekanan dan lebih mudah mengalami rasa kesal atau frustrasi.

Selain itu, kebiasaan sehari-hari dapat meningkatkan kemungkinan seseorang bangun dalam keadaan mudah marah. Jadwal tidur yang tidak teratur, penggunaan gawai hingga larut malam, konsumsi kafein secara berlebihan, serta kurangnya aktivitas fisik dapat mengganggu pola tidur dan membuat ketegangan emosional semakin menumpuk.

Kemarahan yang muncul sesekali merupakan hal yang dapat dialami siapa saja, tetapi kemarahan yang terus berulang dapat menunjukkan adanya masalah emosional yang perlu diperhatikan. Kecemasan yang berkepanjangan, gangguan suasana hati, kesulitan mengendalikan dorongan, atau pengalaman traumatis dapat memengaruhi cara otak mengolah tekanan dan membuat kemarahan muncul sebagai bentuk dari tekanan emosional yang lebih dalam.

Beberapa perubahan sederhana dapat membantu mengurangi kemarahan pada pagi hari, seperti memberikan waktu untuk bangun secara perlahan, menjaga jadwal tidur yang konsisten, makan setelah bangun, menghindari informasi yang memicu tekanan, dan menetapkan tujuan emosional untuk menjalani hari dengan lebih tenang. Jika seseorang terus mengalami kemarahan setelah bangun tidur, kondisi tersebut dapat menjadi tanda bahwa tubuh dan pikiran membutuhkan perhatian sehingga memahami penyebabnya dapat membantu membangun kebiasaan yang lebih sehat dan menjaga kestabilan emosi. (Keyza Vella Audria / Rifqi Nadhif)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....