Burnout: ketika Istirahat Saja Tidak Lagi Terasa Cukup

  • 26 Agt 2026 09:12 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID Surakarta - Burnout sering kali disalahartikan sebagai rasa lelah biasa setelah menjalani aktivitas yang padat. Padahal, seseorang dapat mengalami burnout ketika tekanan yang dihadapi berlangsung terus-menerus hingga menguras energi fisik, mental, dan emosional. Menurut Kementerian Kesehatan RI, burnout berkaitan dengan stres berkepanjangan dan dapat ditandai oleh kelelahan, hilangnya motivasi, munculnya emosi negatif, serta menurunnya kinerja. Kondisi ini membuat seseorang bukan hanya merasa ingin beristirahat, tetapi juga merasa tidak memiliki tenaga untuk kembali menghadapi rutinitas. Karena itu, ketika tidur atau mengambil waktu libur tidak lagi membuat tubuh dan pikiran terasa pulih, kondisi tersebut patut diperhatikan lebih serius.

Berbeda dengan kelelahan biasa, burnout cenderung berkembang secara perlahan akibat tekanan yang tidak terselesaikan. Seseorang mungkin awalnya hanya merasa lelah setelah bekerja, kemudian mulai kehilangan semangat, mudah tersinggung, sulit berkonsentrasi, hingga merasa pekerjaannya tidak lagi bermakna. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menggambarkan burnout sebagai fenomena yang berkaitan dengan pekerjaan, yang ditandai oleh kehabisan energi, meningkatnya jarak mental terhadap pekerjaan, serta menurunnya efektivitas profesional. Penjelasan tersebut juga dikutip oleh ANTARA dalam artikel berbahasa Indonesia mengenai gejala dan penyebab burnout. Artinya, burnout bukan sekadar persoalan “kurang tidur”, melainkan dapat menjadi tanda bahwa seseorang telah terlalu lama berada dalam kondisi tekanan yang sulit dikelola.

Salah satu alasan istirahat terasa tidak cukup adalah karena sumber kelelahan belum benar-benar hilang. Seseorang mungkin mengambil cuti selama beberapa hari, tidur lebih lama, atau menghabiskan waktu untuk bersantai, tetapi setelah kembali menjalani rutinitas, rasa lelah dan tertekan muncul kembali. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa beban kerja yang besar, lingkungan kerja yang kurang mendukung, konflik peran, kurangnya dukungan sosial, serta tuntutan pekerjaan yang tinggi dapat berkontribusi terhadap munculnya burnout. Dalam kondisi seperti ini, tubuh memang memperoleh kesempatan untuk berhenti sejenak, tetapi pikiran masih terus berhadapan dengan sumber tekanan yang sama. Oleh sebab itu, pemulihan burnout tidak selalu cukup dilakukan dengan menambah waktu istirahat, tetapi juga membutuhkan perubahan terhadap pola kerja, batasan, maupun sumber stres yang mendasarinya.

Burnout juga dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya sendiri dan lingkungan di sekitarnya. Orang yang mengalaminya dapat menjadi lebih mudah marah, menarik diri dari lingkungan sosial, kehilangan motivasi, sulit berkonsentrasi, dan merasa kemampuan dirinya menurun. RSUP dr. Soeradji Tirtonegoro menjelaskan bahwa burnout dapat disertai kelelahan fisik seperti sakit kepala dan gangguan tidur, serta kelelahan emosional dan mental seperti mudah tersinggung, sinisme, perasaan tidak berdaya, dan merasa tidak kompeten. Akibatnya, seseorang dapat merasa bersalah karena tidak lagi mampu bekerja atau beraktivitas seperti biasanya, padahal masalahnya bukan semata-mata kurang kemauan. Ketika kondisi tersebut dibiarkan, lingkaran antara tekanan, kelelahan, penurunan kinerja, dan rasa bersalah dapat semakin memperburuk keadaan.

Mengatasi burnout membutuhkan pendekatan yang lebih menyeluruh daripada sekadar memaksakan diri untuk kembali produktif. Langkah awal dapat dilakukan dengan mengenali sumber tekanan, menetapkan batas antara pekerjaan dan kehidupan pribadi, mengatur waktu istirahat, melakukan aktivitas yang menyenangkan, menjaga pola hidup sehat, serta mencari dukungan dari orang yang dipercaya. Kementerian Kesehatan juga menyarankan beberapa langkah untuk mengatasi burnout, seperti membuat jadwal istirahat secara teratur, berolahraga, melakukan aktivitas menyenangkan, menjaga pola makan, dan mencari bantuan profesional apabila kondisi sulit ditangani sendiri. Selain itu, lingkungan kerja juga memiliki peran penting karena kesejahteraan di tempat kerja dapat membantu menciptakan rasa aman, nyaman, dan puas yang pada akhirnya mendukung produktivitas.

Pada akhirnya, burnout mengingatkan kita bahwa tubuh dan pikiran memiliki batas yang tidak bisa terus-menerus dipaksa. Tidak semua rasa lelah dapat diselesaikan dengan tidur lebih lama karena terkadang yang dibutuhkan bukan hanya istirahat, melainkan perubahan terhadap sesuatu yang terus menguras energi. Jika seseorang terus merasa kosong, kehilangan motivasi, sulit menjalankan aktivitas sehari-hari, atau mengalami keluhan fisik dan emosional yang menetap, mencari bantuan psikolog atau tenaga profesional merupakan langkah yang wajar dan penting. RS Jiwa Dr. Radjiman Wediodiningrat juga menekankan bahwa burnout bukan sekadar kelelahan biasa dan perlu mendapat perhatian ketika stres berlebihan tidak kunjung mereda. Beristirahat bukan berarti menyerah, dan meminta bantuan bukan berarti lemah, karena terkadang pemulihan justru dimulai ketika seseorang berani mengakui bahwa dirinya sudah terlalu lama memaksakan diri. (Rosita – LPU)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....