Anak Makin Aktif setelah Makan Gula, Mitos atau Fakta?
- 25 Sep 2026 07:00 WIB
- Surakarta
Poin Utama
- Meta-analisis dari 16 laporan dengan 23 studi tidak menemukan pengaruh signifikan gula terhadap perilaku dan kemampuan kognitif anak.
- Penelitian terkontrol dari The New England Journal of Medicine membuktikan bahwa konsumsi sukrosa, bahkan pada tingkat tinggi, tidak memberikan pengaruh terhadap perilaku atau fungsi kognitif anak.
- Anggapan umum orang tua bahwa gula membuat anak hiperaktif atau lebih aktif tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat.
RRI.CO.ID, Surakarta - Anak tiba-tiba berlarian ke sana kemari setelah makan permen, cokelat, atau minum minuman manis. Kondisi ini sering membuat orang tua percaya bahwa gula bisa membuat anak menjadi lebih aktif atau bahkan hiperaktif. Namun, benarkah gula secara langsung menyebabkan perubahan perilaku tersebut? Sejumlah penelitian justru menunjukkan bahwa anggapan tersebut tidak sesederhana yang selama ini dipercaya.
Sebuah meta-analisis yang diterbitkan dalam JAMA dan melibatkan 16 laporan dengan 23 studi membandingkan konsumsi gula dengan kondisi plasebo. Hasilnya, penelitian tersebut tidak menemukan pengaruh signifikan gula terhadap perilaku maupun kemampuan kognitif anak. Penelitian terkontrol lain yang diterbitkan The New England Journal of Medicine juga menemukan bahwa konsumsi sukrosa, bahkan pada tingkat yang melebihi pola konsumsi biasa, tidak memberikan pengaruh terhadap perilaku atau fungsi kognitif anak.
| Baca juga: Yogurt dan Beragam Manfaatnya bagi Kesehatan |
Lantas, mengapa anak sering terlihat lebih aktif setelah makan makanan manis? Salah satu penjelasannya bisa berkaitan dengan situasi ketika makanan manis dikonsumsi. Permen, kue, atau minuman manis sering diberikan dalam suasana pesta, ulang tahun, atau acara yang ramai. Anak berada dalam lingkungan yang memang lebih meriah sehingga aktivitas mereka meningkat. Artinya, perubahan perilaku tersebut belum tentu disebabkan oleh gula.
Ekspektasi orang tua juga ternyata dapat memengaruhi cara melihat perilaku anak. Dalam sebuah penelitian terhadap anak yang dianggap sensitif terhadap gula, orang tua yang diberi tahu bahwa anak mereka telah mengonsumsi gula justru menilai anak lebih hiperaktif, padahal seluruh anak dalam penelitian tersebut sebenarnya menerima plasebo. Temuan ini menunjukkan bahwa keyakinan terhadap efek gula dapat memengaruhi persepsi terhadap perilaku anak.
Meski demikian, bukan berarti konsumsi gula boleh dibiarkan tanpa batas. Makanan dan minuman tinggi gula tetap perlu dibatasi karena terlalu banyak gula tambahan dapat membuat pola makan anak kurang seimbang dan menggantikan makanan yang lebih bergizi. Jadi, alasan membatasi gula sebaiknya bukan semata-mata karena takut anak menjadi hiperaktif, melainkan untuk membantu menjaga pola makan dan kesehatan anak secara keseluruhan.
Orang tua juga sebaiknya tidak langsung mengaitkan setiap perubahan perilaku anak dengan makanan manis. Anak yang tampak lebih bersemangat, sulit diam, atau banyak bergerak bisa saja sedang mengalami kegembiraan, kurang tidur, berada dalam lingkungan yang ramai, atau memang sedang aktif bermain. Jika terdapat masalah perilaku atau perhatian yang berlangsung terus-menerus dan mengganggu aktivitas sehari-hari, evaluasi dari tenaga profesional lebih tepat daripada sekadar menghilangkan gula dari menu anak.
Jadi, anggapan bahwa gula otomatis membuat anak menjadi hiperaktif lebih tepat disebut mitos berdasarkan bukti penelitian yang ada. Studi terkontrol dan meta-analisis tidak menemukan hubungan sebab-akibat yang kuat antara konsumsi gula dan hiperaktivitas pada anak. Namun, konsumsi makanan dan minuman tinggi gula tetap perlu dibatasi sebagai bagian dari pola makan sehat. Dengan begitu, orang tua tidak hanya fokus pada apakah anak menjadi aktif setelah makan gula, tetapi juga memperhatikan kualitas makanan, aktivitas fisik, tidur, dan kebiasaan hidup anak secara keseluruhan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....