Gagal Jantung Tak Selalu Ditandai Sesak, Kenali Gejala yang Sering Diabaikan

  • 08 Sep 2026 21:29 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Gagal jantung tidak selalu ditandai dengan sesak napas atau nyeri dada. Kondisi ini dapat muncul melalui gejala yang lebih ringan, seperti mudah lelah, kemampuan beraktivitas yang menurun, hingga pembengkakan pada kaki. Karena itu, masyarakat perlu mengenali berbagai gejala gagal jantung agar penanganan dapat dilakukan lebih dini.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Rumah Sakit UNS Surakarta, dr. Fitri Kusumastuti, Sp.JP saat dialog Astacita Selasa 1 September 2026, menjelaskan gagal jantung terjadi ketika jantung tidak mampu memompa darah sesuai kebutuhan tubuh. Kondisi tersebut tidak berarti jantung berhenti berdetak, melainkan kemampuan kerja jantung mengalami penurunan.

“Secara sederhana gagal jantung adalah kondisi ketika jantung tidak mampu memompa darah sesuai kebutuhan tubuh. Jadi ibaratnya jantung itu seperti pompa air,” ujar dr. Fitri.

Menurutnya, gagal jantung sering terlambat dikenali karena tubuh memiliki kemampuan untuk beradaptasi ketika fungsi jantung mulai menurun. Akibatnya, seseorang dapat menganggap perubahan kemampuan fisik sebagai hal biasa.

Salah satu contoh yang perlu diperhatikan adalah perubahan kemampuan saat melakukan aktivitas. Seseorang yang sebelumnya mampu menaiki beberapa lantai tanpa masalah, tetapi kemudian baru naik satu lantai sudah merasa lelah dan membutuhkan istirahat, sebaiknya tidak langsung menganggap kondisi tersebut sebagai akibat bertambahnya usia atau kurang olahraga.

“Kadang pasien itu menganggap hal ini akibat usia yang tua atau kurang olahraga, kelelahan biasa, atau kenaikan berat badan. Padahal sebetulnya di situ ada penyesuaian dari kompensasi tubuh terhadap pompa jantung yang kurang,” ucapnya.

Selain mudah lelah, sejumlah gejala lain yang dapat muncul antara lain sesak ketika berjalan atau beraktivitas, sesak saat berbaring, terbangun pada malam hari karena kesulitan bernapas, kaki membengkak, serta peningkatan berat badan. Pada sebagian pasien, gagal jantung juga dapat menyebabkan nafsu makan menurun karena adanya penumpukan cairan di saluran pencernaan.

Kemudian dr. Fitri menambahkan, batuk yang menetap terutama pada malam hari, jantung berdebar, pusing, sulit berkonsentrasi, lebih sering buang air kecil pada malam hari, hingga kebingungan pada lansia juga dapat menjadi gejala yang perlu diperhatikan.

Gagal jantung juga bukan hanya penyakit yang dialami kelompok lanjut usia. Pada usia muda, kondisi tersebut tetap dapat terjadi akibat berbagai penyebab, mulai dari kelainan katup jantung, anemia, penyakit tiroid, kekurangan zat besi, gangguan otot jantung atau kardiomiopati, gangguan genetik, gangguan irama jantung, hingga penyakit jantung bawaan.

“Gagal jantung di sini kita sebut memiliki berbagai wajah. Selain dengan gejalanya, ternyata penyebabnya juga berbeda. Jadi memang tetap disesuaikan dengan resepnya masing-masing,” katanya.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak menggunakan obat gagal jantung milik orang lain meskipun memiliki diagnosis yang sama. Setiap pasien dapat memiliki tipe gagal jantung dan kondisi penyerta yang berbeda sehingga pengobatannya perlu disesuaikan.

Untuk mendeteksi gagal jantung, pemeriksaan dapat dilakukan melalui beberapa tahapan sesuai kondisi pasien. Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) dapat menjadi salah satu pemeriksaan awal untuk melihat aktivitas listrik jantung. Dokter juga dapat merekomendasikan ekokardiografi atau USG jantung untuk melihat struktur, katup, serta fungsi jantung.

Pemeriksaan tambahan, seperti tes darah, pemeriksaan biomarker BNP atau NT-proBNP, foto rontgen, pemeriksaan pembuluh darah koroner, MRI jantung, pemantauan irama jantung, hingga pemeriksaan genetik dapat dilakukan sesuai indikasi.

Meski demikian, diagnosis gagal jantung tidak berarti seseorang kehilangan harapan untuk hidup normal. Menurut dr. Fitri, pada sejumlah pasien fungsi jantung dapat mengalami perbaikan setelah mendapatkan pengobatan yang tepat dan menerapkan pola hidup sehat.

“Ternyata pada beberapa pasien fungsi jantung itu bisa meningkat dan bahkan kembali seperti normal dengan penggunaan obat-obatan yang tepat dan pola hidup yang sehat,” katanya.

Pasien gagal jantung yang kondisinya stabil juga masih dapat melakukan aktivitas fisik secara bertahap sesuai kemampuan. Aktivitas dapat dimulai dari jalan santai dan ditingkatkan secara perlahan apabila tidak menimbulkan keluhan.

Namun, aktivitas harus dihentikan apabila muncul sesak yang semakin berat, nyeri atau tekanan di dada, pusing atau hampir pingsan, jantung berdebar hebat, keringat dingin, maupun kelelahan yang sangat berat. dr. Fitri juga menyarankan pasien gagal jantung tidak beraktivitas sendirian untuk mengantisipasi kondisi yang tidak diinginkan.

Masyarakat juga perlu segera mencari pertolongan medis apabila muncul tanda bahaya, seperti bibir atau jari membiru, tidak mampu berbaring karena sesak, nyeri dada menetap, pingsan, jantung berdebar sangat cepat, batuk berdahak berbusa kemerahan, produksi urine berkurang disertai sesak dan pembengkakan yang memburuk, tekanan darah sangat rendah atau tinggi, tubuh lemas, pucat, atau berkeringat dingin.

dr. Fitri mengajak masyarakat tidak menunggu hingga gejala menjadi berat sebelum memeriksakan diri. Perubahan kondisi fisik yang berlangsung dibandingkan beberapa bulan sebelumnya juga layak menjadi alasan untuk berkonsultasi dengan dokter.

“Jangan sampai jantung kita berteriak baru kita memberikan pertolongan. Jadi ketika kita sudah merasa ada sesuatu yang salah, sepertinya pada diri saya ada sesuatu yang berubah pada diri saya dibandingkan enam bulan yang lalu, itu tidak ada salahnya untuk kita melakukan check up ke dokter jantung,” ujarnya. (Nuri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....