Terlalu Sering Membantu Anak, Orang Tua Justru Bisa Menghambat Kemandiriannya
- 30 Agt 2026 12:59 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Setiap orang tua tentu ingin anaknya tumbuh sukses dan terhindar dari berbagai kesulitan. Namun, keinginan untuk selalu membantu dan menyelesaikan masalah anak ternyata bisa membuat mereka kurang siap menghadapi tantangan ketika dewasa.
Pola asuh ini dikenal dengan istilah snowplow parenting, yaitu ketika orang tua berusaha “membersihkan” semua hambatan yang ada di depan anak. Orang tua berusaha mengambil alih masalah anak agar anak tidak perlu merasakan kegagalan atau ketidaknyamanan.
Menurut psikolog perkembangan Dr. Damon Korb dalam parents.com, orang tua dengan pola tersebut mungkin berhasil membantu anak mencapai prestasi tertentu. Namun, dalam jangka panjang, anak justru dapat kehilangan kesempatan untuk belajar menyelesaikan masalah dan menghadapi perjuangan yang menjadi bagian penting dalam kehidupan.
| Baca juga: Kebiasaan Menggigit Jari pada Anak |
Kemunculan pola asuh ini salah satunya dipengaruhi oleh kekhawatiran orang tua terhadap berbagai risiko yang diberitakan media sosial dimana terus menghadirkan informasi mengenai berbagai hal buruk yang mungkin terjadi.
Teknologi juga membuat orang tua semakin mudah turun tangan dalam urusan anak. Orang tua kini memiliki kebiasaan untuk mengirim pesan atau email kepada guru untuk memprotes sesuatu, bahkan dapat dengan mudah mengatur berbagai kebutuhan anak yang sebenarnya bisa mereka lakukan sendiri.
Masalahnya, anak yang terlalu sering dibantu menyelesaikan persoalan dapat menjadi kurang terbiasa menghadapi rasa frustrasi. Jessica Lahey, penulis The Gift of Failure, menjelaskan bahwa anak membutuhkan tantangan yang membuat mereka berusaha karena proses tersebut membantu mereka belajar menghadapi kesulitan dan tidak mudah menyerah. (parents.com)
Kebiasaan orang tua mengambil alih juga dapat memengaruhi kemampuan anak dalam memecahkan masalah. Mulai dari mengingatkan tenggat tugas, membuat janji, membangunkan anak untuk sekolah, hingga membantu mengerjakan esai atau lamaran pekerjaan, berbagai bantuan tersebut jika dilakukan terus-menerus dapat membuat anak kurang terlatih mengambil keputusan sendiri.
Dampaknya tidak berhenti pada kemandirian. Menurut Lahey, anak yang jarang merasakan konsekuensi dari tindakannya dapat mengalami rendahnya keyakinan terhadap kemampuan diri atau self-efficacy, sementara kecemasan orang tua yang terus terbawa dalam pengasuhan juga berpotensi meningkatkan kecemasan pada anak.
Parents.com menyarankan orang tua lebih berfokus pada tujuan jangka panjang, mengelola kecemasan sendiri, serta memberi ruang kepada anak untuk berpikir dan mencari solusi dengan pendampingan seperlunya. Pendekatan big-picture parenting disarankan agar orang tua secara bertahap memberikan kesempatan kepada anak untuk berpikir mandiri dan menyelesaikan persoalannya sendiri.
Ketika anak menghadapi masalah, orang tua dapat bertanya, “Bagaimana kamu akan menyelesaikan masalah ini, dan apa yang akan kamu lakukan berbeda lain kali?” sehingga anak belajar dari proses, bukan sekadar mengejar hasil. (Hil)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....