Mengapa Kita Sering Makan Bukan karena Lapar?

  • 26 Agt 2026 09:14 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID Surakarta – Pernakah kita membuka kulkas atau membeli camilan padahal sebenarnya perut belum terasa lapar? Fenomena ini cukup umum terjadi karena keinginan makan tidak selalu muncul akibat kebutuhan energi tubuh. Dalam kondisi tertentu, makanan dapat menjadi respons terhadap stres, kebosanan, kecemasan, kebiasaan, atau sekadar karena melihat dan mencium makanan yang menarik. Kementerian Kesehatan RI juga menjelaskan bahwa rasa lapar tidak selalu berkaitan dengan perut yang kosong karena dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk fluktuasi hormon. Karena itu, memahami alasan di balik keinginan makan dapat membantu kita membedakan antara lapar fisik dan sekadar dorongan untuk makan.

Salah satu penyebab paling umum adalah emotional eating, yaitu kebiasaan makan sebagai respons terhadap kondisi emosional, bukan karena tubuh benar-benar membutuhkan makanan. Saat mengalami stres, sedih, cemas, marah, atau bosan, seseorang dapat menjadikan makanan sebagai cara untuk memperoleh rasa nyaman sementara. Makanan tertentu, terutama yang manis, gurih, atau tinggi lemak, sering terasa lebih menarik ketika suasana hati sedang tidak baik. Jika pola tersebut terus berulang, makanan dapat berubah fungsi dari sumber energi menjadi sarana untuk mengatasi emosi.

Selain emosi, lingkungan juga dapat membuat kita ingin makan meskipun belum lapar. Aroma makanan yang menggugah selera, tampilan makanan, iklan, keberadaan camilan di meja, atau melihat orang lain sedang makan dapat memicu keinginan untuk ikut makan. Fenomena ini sering disebut sebagai “lapar mata”, yaitu keinginan makan yang muncul karena rangsangan visual, aroma, atau pikiran tentang makanan tanpa adanya kebutuhan energi yang nyata. Dalam kehidupan sehari-hari, kondisi tersebut semakin mudah terjadi karena kita terus terpapar makanan melalui media sosial, layanan pesan-antar, dan berbagai promosi kuliner. Akibatnya, keputusan untuk makan terkadang lebih dipengaruhi oleh lingkungan daripada sinyal tubuh.

Kebiasaan makan sambil melakukan aktivitas lain juga dapat membuat seseorang kehilangan kesadaran terhadap jumlah makanan yang dikonsumsi. Kita mungkin makan sambil menonton televisi, bekerja, bermain ponsel, atau melakukan scrolling sehingga perhatian tidak sepenuhnya tertuju pada makanan dan rasa kenyang. Kementerian Kesehatan melalui Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan menjelaskan bahwa mindful eating mengajak seseorang untuk mengenali rasa lapar dan kenyang, makan secara perlahan, serta mengurangi distraksi ketika makan. Dengan meningkatkan kesadaran ketika makan, seseorang dapat lebih mudah mengetahui apakah dirinya benar-benar lapar atau hanya sedang mengikuti kebiasaan. Langkah sederhana seperti berhenti sejenak sebelum mengambil camilan dapat membantu kita mengevaluasi alasan sebenarnya di balik keinginan makan.

Kurang tidur dan pola makan yang tidak teratur juga dapat memengaruhi rasa lapar serta keinginan makan. Gangguan tidur dapat mengacaukan keseimbangan hormon yang berkaitan dengan rasa lapar dan kenyang sehingga seseorang lebih mudah merasa ingin makan. Begitu pula dengan kebiasaan melewatkan waktu makan atau melakukan pembatasan makanan secara berlebihan yang dapat membuat seseorang lebih sulit mengendalikan keinginan makan setelahnya. Karena itu, mengurangi makan bukan selalu berarti semakin sedikit semakin baik, tetapi perlu dilakukan dengan pola yang cukup dan seimbang. Kementerian Kesehatan juga menekankan pentingnya pola makan yang memenuhi kebutuhan nutrisi tubuh karena makanan dan kesehatan memiliki hubungan yang erat.

Pada akhirnya, makan bukan hanya persoalan perut, tetapi juga berkaitan dengan pikiran, emosi, kebiasaan, dan lingkungan sekitar. Sebelum mengambil makanan ketika sebenarnya belum lapar, kita dapat bertanya kepada diri sendiri, “Apakah saya benar-benar lapar, atau sedang bosan, stres, sedih, atau sekadar tergoda?” Jika jawabannya bukan lapar fisik, kita dapat mencoba memberi jeda dengan minum air, berjalan sebentar, berbicara dengan orang lain, atau melakukan aktivitas yang membuat pikiran lebih tenang. Namun, apabila makan berlebihan terjadi berulang kali, disertai rasa kehilangan kendali, makan dalam jumlah sangat banyak, dan muncul rasa bersalah setelahnya, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena dapat berkaitan dengan gangguan makan seperti binge eating disorder. Dengan mengenali sinyal tubuh dan alasan di balik keinginan makan, kita tidak harus memusuhi makanan, tetapi dapat membangun hubungan yang lebih sehat dan sadar dengannya. (Rosita - LPU)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....