Marak TB Resisten, Dinkes Sragen Gencarkan Program Terapi Pencegahan (TPT)
- 26 Jul 2026 22:07 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN — Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sragen kini gencar menggalakkan program Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) sebagai langkah taktis menekan angka penularan TBC di wilayahnya. Upaya ini dilakukan menyusul temuan kasus TB Resisten terhadap pasien baru terdeteksi.
Fungsional Epidemiologi Muda Pengelola Program TB Dinkes Sragen, Endang Suryandari, mengakui munculnya kasus TBC Resisten Obat yang kian mengkhawatirkan. Lanjut dia, beberapa waktu terakhir ditemukan TB Resisten pada pasien-pasien baru yang belum pernah menjalani pengobatan TBC sebelumnya.
Seperti kalangan mahasiswa dan masyarakat umum di beberapa Puskesmas (di antaranya Wilayah Tangkil/Sragen, Jenar, dan Masaran/Rampal).
"TBC Resisten Obat ini bahaya karena efek samping obatnya tinggi. Penyebabnya bisa karena gagal pengobatan sebelumnya atau tidak teratur minum obat hingga putus berobat. Namun sekarang, kasus baru pun ada yang langsung terdiagnosis resisten obat. Ini menandakan penularan di sekitar kita sudah cukup meluas," katanya belum lama ini.
Menurut Endang Suryandari, Dinkes Sragen kini intensif melaksanakan program Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) sebagai langkah taktis menekan angka penularan TBC di wilayahnya. Program TPT ditargetkan khusus kepada anggota keluarga yang memiliki kontak erat dengan pasien terkonfirmasi TBC bakteriologis.
"TPT ini diberikan kepada kontak keluarga terkonfirmasi bakteriologis yang sudah menjalani screening dan dinyatakan tidak memiliki tanda gejala TBC. Jadi, meskipun kondisinya sehat, mereka wajib minum obat pencegahan TBC," ujar Endang.
Endang menegaskan, prosedur penanganan dilakukan secara terukur melalui skema penapisan (screening). Apabila dalam proses screening kontak keluarga ditemukan tanda atau gejala TBC, petugas medis akan langsung menindaklanjutinya dengan pemeriksaan laboratorium TCM (Test Cepat Molekuler), scoring TBC untuk anak, ataupun rontgen dada.
"Jika hasil pemeriksaannya positif TBC, pasien langsung menjalani pengobatan TBC. Namun jika hasilnya negatif TBC, mereka diwajibkan mengonsumsi obat pencegahan TPT ini," tambahnya.
Langkah masif ini diambil mengingat ancaman TBC di Kabupaten Sragen yang menyerupai fenomena gunung es. Berdasarkan data akumulatif Dinkes Sragen per 8 Juli, dari total 7.463 orang terduga (suspek) TBC yang diperiksa, ditemukan 945 kasus positif. Rinciannya meliputi 938 pasien TBC Sensitif Obat (SO) dan 7 pasien TBC Resisten Obat (RO).
Untuk pasien TBC RO, saat ini telah tersedia skema pengobatan jangka pendek (short regimen) BPaL/M selama 6 bulan, jauh lebih singkat dibandingkan pengobatan lama yang memakan waktu hingga 2 tahun. Meski demikian, kepatuhan minum obat tanpa putus tetap menjadi kunci utama kesembuhan.
Guna menjaring kasus sedini mungkin, Dinkes Sragen mengintegrasikan screening TBC dengan pelayanan Cek Kesehatan Gratis (CKG) serta pemeriksaan rutin di seluruh Puskesmas. Dari pemetaan wilayah, Puskesmas Sambirejo mencatatkan capaian screening tertinggi sekaligus penemuan kasus terbanyak.
Dari 4.567 orang yang di-screening di Sambirejo, ditemukan 266 terduga (suspek) dan 50 pasien terkonfirmasi positif TBC. Sementara secara jumlah kasus positif murni, wilayah Puskesmas Sragen Kota juga mencatatkan angka yang terbilang tinggi.
Mengingat penularan TBC terjadi melalui udara (droplet) saat penderita batuk dan tidak mengenal latar belakang sosial, Dinkes Sragen mengimbau masyarakat untuk terus menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), menjaga pola gizi, serta menggunakan masker jika sedang mengalami gejala batuk. MI
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....