Waspadai Depresi Terselubung
- 25 Jun 2026 17:02 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Gangguan kesehatan mental tidak selalu ditandai dengan kesedihan yang tampak jelas. Banyak orang justru mengalami apa yang disebut sebagai depresi terselubung (hidden depression), yaitu kondisi depresi yang gejalanya lebih banyak muncul dalam bentuk keluhan fisik sehingga sering tidak disadari.
Hal tersebut disampaikan dr. Aliyah Himawati Rizkiyani, Sp.KJ, Dokter Fungsional RSJD dr. Arif Zainuddin Surakarta, dalam dialog interaktif di RRI Surakarta. Menurutnya, depresi terselubung membuat penderitanya tampak baik-baik saja, bahkan tetap aktif bekerja dan bergaul seperti biasa.
"Pada umumnya depresi terselubung adalah kondisi ketika seseorang mengalami gangguan mental yang memengaruhi perasaan, cara berpikir, dan perilaku. Namun yang dominan dikeluhkan justru gangguan fisik, sehingga sering tidak disadari sebagai depresi," ujar dr. Aliyah.
Ia menjelaskan, keluhan yang sering muncul antara lain sakit kepala, nyeri punggung, ketegangan otot, gangguan lambung, hingga perubahan pola tidur. Karena gejalanya menyerupai penyakit fisik, banyak penderita yang hanya berfokus pada pengobatan keluhan tersebut tanpa menyadari adanya masalah kesehatan mental yang mendasari.
"Selama ini gangguan fisik dianggap sebagai sakit fisik biasa. Padahal, yang mendasari keluhan tersebut bisa jadi adalah depresi," katanya.
Selain keluhan fisik, perubahan perilaku juga dapat menjadi tanda depresi terselubung. Penderita kerap terlihat sangat produktif dan sibuk, namun sebenarnya menjadikan aktivitas tersebut sebagai pelarian dari tekanan yang dirasakan.
"Kadang seseorang terlihat aktif bekerja, terlihat senang, terlihat menikmati pekerjaannya. Tetapi sesungguhnya dia merasa hampa. Aktivitas itu bisa menjadi pelampiasan dari rasa depresinya," ucapnya.
Menurut dr. Aliyah, masyarakat perlu lebih waspada apabila seseorang mulai menunjukkan perubahan kebiasaan yang tidak biasa, seperti makan berlebihan, mudah tersinggung, sulit tidur, atau justru tidur terlalu lama. "Kalau keluhan-keluhan tersebut muncul terus-menerus, terutama selama dua minggu berturut-turut, itu sudah harus mulai diwaspadai," ungkapnya.
Dipicu Banyak Faktor
Lebih lanjut, dr. Aliyah mengatakan bahwa depresi terselubung tidak muncul karena satu penyebab saja. Kondisi tersebut dapat dipengaruhi oleh tekanan pekerjaan yang berkepanjangan, tuntutan hidup, trauma masa lalu, penyakit kronis, hingga gangguan hormon dan ketidakseimbangan zat kimia di otak.
"Depresi itu multifaktor. Beban pekerjaan bisa menjadi pemicu ketika tidak ditangani dengan baik. Selain itu ada trauma masa lalu, penyakit kronis, gangguan hormon, dan ketidakseimbangan zat kimia otak seperti serotonin dan dopamin," ucapnya.
Stigma Masih Menjadi Kendala
| Baca juga: Waspadai Penyakit Ini saat Musim Kemarau |
Salah satu hambatan terbesar dalam penanganan gangguan kesehatan mental adalah stigma masyarakat yang masih menganggap konsultasi ke psikolog atau psikiater identik dengan gangguan jiwa berat. "Stigma gangguan jiwa di masyarakat masih sangat buruk. Padahal ketika depresi terselubung ditangani dengan baik, kondisi ini bisa selesai dan bisa sembuh," ujar dr. Aliyah.
Ia mengingatkan bahwa masalah kesehatan mental yang dibiarkan berlarut-larut dapat berkembang menjadi depresi yang lebih berat dan berdampak serius terhadap kualitas hidup seseorang. Karena itu, masyarakat diimbau untuk tidak ragu mencari bantuan profesional apabila mulai merasakan gejala yang mengganggu.
"Tidak semua yang datang ke psikolog atau psikiater berarti mengalami gangguan jiwa berat. Justru sebelum kondisi menjadi berat, sebaiknya segera berkonsultasi," katanya.
Jaga Keseimbangan Hidup
Sebagai langkah pencegahan, dr. Aliyah mengajak masyarakat untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan waktu istirahat, menerapkan pola hidup sehat, serta mengelola ekspektasi diri. "Jaga keseimbangan antara bekerja dan istirahat. Jangan selalu menuruti semua keinginan, tetapi fokus pada kebutuhan. Kadang yang membuat pikiran kita berisik adalah karena terlalu banyak melihat kehidupan orang lain dan kurang melihat diri sendiri," ujarnya.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental, diharapkan gejala depresi terselubung dapat dikenali lebih dini. Sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih serius.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....