Penyakit Usus Buntu: Kenali Gejala, Penyebab, dan Penanganannya

  • 12 Jun 2026 23:47 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Penyakit usus buntu atau apendisitis adalah peradangan pada apendiks, yaitu organ kecil berbentuk tabung yang menempel pada bagian awal usus besar. Kondisi ini merupakan salah satu penyebab nyeri perut akut yang paling sering memerlukan tindakan operasi. Jika tidak segera ditangani, usus buntu yang meradang dapat pecah dan menyebabkan infeksi serius di rongga perut.

Menurut dr. Arif Budi Satria, Sp.B., M.Kes. dari RSUP Surakarta saat dialog di RRI Surakarta, apendisitis umumnya terjadi akibat adanya sumbatan pada saluran apendiks yang memicu proses peradangan. Peradangan usus buntu biasanya diawali oleh penyumbatan lumen apendiks.

Penyumbatan ini dapat disebabkan oleh tinja yang mengeras, pembengkakan jaringan limfoid, infeksi saluran pencernaan, maupun benda asing yang masuk ke saluran apendiks. Ketika saluran tersumbat, bakteri berkembang biak dengan cepat sehingga menimbulkan pembengkakan dan infeksi.

Selain itu, pola makan rendah serat juga diketahui menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan meningkatnya risiko apendisitis. Asupan serat yang kurang dapat menyebabkan gangguan buang air besar dan meningkatkan kemungkinan terbentuknya sumbatan pada usus buntu.

“Mitos yang sering muncul tentang usus buntu biasanya tentang menelan biji buah seperti jeruk, anggur, srikaya, delima, atau biji cabai lalu tersangkut di usus buntu. Nah itu semua adalah mitos nyatanya tidak seperti itu,” ujarnya.

Gejala awal apendisitis sering kali berupa nyeri di sekitar pusar yang kemudian berpindah ke perut kanan bawah. Seiring bertambahnya peradangan, rasa nyeri akan semakin kuat terutama saat berjalan, batuk, atau bergerak. Gejala lain yang sering menyertai jika sudah semakin parah meliputi mual dan muntah, nafsu makan menurun, demam ringan, perut terasa kembung, nyeri tekan pada perut kanan bawah.

Diagnosis apendisitis melalui wawancara medis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan darah, serta pemeriksaan penunjang seperti USG atau CT scan bila diperlukan. Peningkatan jumlah leukosit sering digunakan sebagai indikator adanya peradangan akut.

Penanganan utama apendisitis adalah operasi pengangkatan usus buntu atau apendektomi. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah pecahnya usus buntu yang dapat menimbulkan komplikasi serius seperti peritonitis. Pada beberapa kasus, pasien juga mendapatkan terapi antibiotik sebagai bagian dari pengobatan.

“Tidak semua kasus harus operasi, tapi kalo sudah operasi biasanya tidak akan kambuh lagi. Nah kalau tidak operasi ada kemungkinan kambuh jika tidak menjaga pola hidup sehat”, kata dr Arif.

Ia berpesan agar setiap masyarakat untuk menerapkan pola hidup sehat, menjaga asupan makanan agar tidak terjadi penyebab-penyebab timbulnya penyakit usus buntu. Kemudian segera periksa ke rumah sakit jika muncul gejala-gelaja timbulnya penyakit. (Nuri)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....