Air Dingin vs Air Hangat setelah Makan, Mana Lebih Baik?
- 29 Apr 2026 21:02 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Minum setelah makan menjadi kebiasaan yang hampir selalu dilakukan dalam keseharian. Sebagian orang memilih air dingin karena terasa segar, terutama setelah mengonsumsi makanan panas atau pedas. Sementara itu, tidak sedikit yang lebih nyaman dengan air hangat karena dianggap lebih “ramah” bagi perut. Lalu, mana yang sebenarnya lebih baik?
Secara fisiologis, tubuh langsung bekerja mencerna makanan setelah kita makan. Lambung memproduksi asam dan enzim untuk memecah makanan, kemudian nutrisi diserap di usus. Pada proses ini, suhu minuman memang dapat memengaruhi respons awal sistem pencernaan, meskipun tidak sampai menghentikan atau merusaknya.
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa suhu minuman memiliki pengaruh terhadap kerja lambung. Studi oleh Sun et al. (1988) dalam jurnal Gut menemukan bahwa minuman bersuhu dingin dapat memperlambat pengosongan lambung pada fase awal. Artinya, makanan sedikit lebih lama berada di lambung sebelum diproses lebih lanjut, meskipun efek ini bersifat sementara dan tidak berbahaya bagi orang sehat.
Di sisi lain, air hangat cenderung memberikan efek yang lebih nyaman bagi sebagian orang. Penelitian oleh Fujihira et al. (2020) dalam European Journal of Nutrition menunjukkan bahwa suhu air berpengaruh terhadap motilitas lambung atau pergerakan otot-otot pencernaan.
| Baca juga: Nyeri Otot Tak Selalu Bahaya |
Air dingin diketahui menurunkan aktivitas kontraksi lambung dibandingkan air hangat, sehingga air hangat dinilai dapat membantu proses pencernaan terasa lebih lancar. Meski demikian, anggapan bahwa air dingin dapat “membekukan lemak” di dalam tubuh tidak terbukti secara ilmiah.
Tubuh manusia memiliki kemampuan untuk menyesuaikan suhu makanan dan minuman dengan cepat, sehingga proses pencernaan tetap berlangsung normal. Perbedaan suhu minuman lebih berpengaruh pada kenyamanan dibandingkan dampak kesehatan yang signifikan.
Pada akhirnya, pilihan antara air dingin dan air hangat setelah makan kembali pada kondisi masing-masing individu. Air hangat dapat menjadi pilihan bagi yang memiliki perut sensitif atau mudah kembung, sementara air dingin tetap aman dikonsumsi bagi yang menginginkan sensasi segar. Yang lebih penting adalah menjaga keseimbangan, tidak minum berlebihan saat makan, serta memastikan kebutuhan cairan harian tetap terpenuhi.
Referensi:
Sun, W. M., et al. (1988). Effect of meal temperature on gastric emptying of liquids in man. Gut.
Fujihira, K., et al. (2020). The effects of water temperature on gastric motility and energy intake. European Journal of Nutrition.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....