BPOM Surakarta Gelar Bimtek Pengendalian AMR Libatkan Dinkes, Dispangtan-Apotek
- 06 Nov 2025 22:15 WIB
- Surakarta
KBRN,Surakarta: Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Surakarta menyelenggarakan Bimbingan Teknis Pengendalian Resistensi Antimikroba atau AMR, di Hotel Parangraja, Kerten, Kamis (5/11/2025). Bimtek ini melibatkan Dinas Kesehatan, Dinas Pertanian Peternakan Perikanan (Dispangtan) dan Penanggungjawab Apotek serta Farmasi dari Solo, Karanganyar dan Sukoharjo.
Kepala BPOM Surakarta Muhammad Fajar Arifin, menyampaikan isu AMR sudah bergulir lama, namun ancaman kedepan semakin nyata. Berdasarkan studi, jika ditanggulangi sejak dini disinyalir kematian manusia akibat Resistensi Antimikroba bisa mencapai 10 juta orang pada 2050.
"Setelah didalami sumber-sumber AMR itu banyak. Disinyalir 2050 bila tidak ditanggulangi sejak dini kematian manusia bisa pertahun mencapai 10 juta orang. Saat ini yang kita lakukan memberikan sosialisasi, seperti apa yang sudah dilakukan RSUD dr Moewardi," kata M. Fajar saat membuka bimtek.

Kepala BPOM Surakarta Muhammad Fajar Arifin bergabung dengan peserta Bimtek menyimak materi yang disampaikan pemateri. (Foto: RRI/Mulato Ishaan)
Menurut Fajar, sumber AMR tidak hanya dari antibiotik saja, namun juga disebabkan dari hewan seperti unggas atau ternak yang lain yang pakannya diberikan antibiotik. Hasil survei penyebab AMR paling tinggi adalah pemberian antibiotik tanpa resep.
"Data yang kami dapat (penyebab) penyerahan antibiotik tanpa resep. Tren sebenarnya turun dari 2021 itu penyerahan antibiotik tanpa resep 79,53 persen, turun lagi 2023 itu 70,5 persen," katanya.
Meskipun angkanya semakin turun dari tahun ke tahun namun masih dikisaran 70-an persen. Oleh sebab itu BPOM gencar melakukan langkah-langkah pencegahan salah satunya menggandeng Pemerintah Daerah untuk menerbitkan SE larangan pembelian antibiotik tanpa resep.
"Ketika data ini penurunan tidak signifikan 2024 stagnan di 70 persen harus ada langkah dengan Pemda. Tahun ini gencar membuat surat edaran Bupati/Walikota untuk larangan penyerahan antibiotik tanpa resep. Di Soloraya itu di Karanganyar yang sudah jalan," ujar Fajar.
Masalah lain yang tak kalah penting menurut Fajar Arifin sampah obat yang masih tercampur dengan sampah rumah tangga. BPOM memiliki progam 'ayo buang sampah obat dengan tepat'. Diharapkan nantinya apotek memfasilitasi sampah obat dari masyarakat agar tidak bercampur dengan sampah rumah tangga.

Dr. dr. Leli Saptawati dr SP. MK dari RSUD dr Moewardi Surakarta menyampaikan materi Bimtek Pengendalian Resistensi Antimikroba. (Foto:RRI/ Mulato Ishaan)
Salah satu pembicara Dr. dr. Leli Saptawati dr SP. MK dari RSUD dr Moewardi Surakarta mengatakan, angka kematian pasien intensif care akibat AMR tergolong tinggi mencapai 60 persen. Dosen Fakultas Kesehatan UNS Surakarta itu juga mengatakan dibutuhkan sinergitas apoteker, dokter termasuk dari Dinas Peternakan Perikanan.
"Pada dasarnya kita itu bergerak bersama untuk mengembalikan resistensi karena faktornya itu banyak tidak hanya apotek yang diuplek-uplek. Dokter juga banyak, sama mungkin teman-teman peternak ayam dan peternakan lainnya juga. Mari kita duduk bersama," ujarnya.
Dari Bimtek ini diharapkan pihak-pihak berkompeten lebih paham dan lebih peduli dari ancaman AMR. Selain BPOM yang melakukan penanggulan ancaman Resistensi Antimikroba, juga dibutuhkan komitmen bersama.
Dalam Bimtek tersebut peserta juga membuat pakta integritas sebagai upaya bersama mencegah resistensi (kebal) antimikroba seperti antibiotik, antijamur dan lainnya. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....