Tradisi Budaya Petani Jawa dan Ilmu Pertanian ternyata Berkesinambungan
- 28 Jun 2026 05:17 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Pertanian tidak hanya menjadi aktivitas ekonomi masyarakat Jawa, tetapi juga membentuk kebudayaan yang diwariskan turun-temurun. Tradisi bertani yang berkembang sejak masa lampau dinilai mengandung nilai gotong royong, religiusitas, hingga kepedulian terhadap lingkungan.
Hal tersebut disampaikan Dosen Ilmu Tanah Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof. Dr. Ir. Sumani, M.Si., dalam program Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, Jumat, 26 Juni 2026. Menurutnya, berbagai ritual yang mengiringi aktivitas bertani merupakan bagian dari kebudayaan Jawa yang tumbuh dari pengalaman masyarakat dalam mengelola alam.
"Tradisi-tradisi itu dilakukan secara turun-temurun sehingga menjadi budaya. Misalnya mengawali masa tanam dengan selametan, menggunakan penanggalan Pranata Mangsa, hingga syukuran setelah panen," ujar Sumani.
Ia menjelaskan, sejarah menunjukkan bahwa pertanian telah menjadi bagian penting kehidupan masyarakat Jawa sejak lama. Berbagai prasasti serta peninggalan sistem irigasi di sejumlah situs menjadi bukti bahwa kerajaan-kerajaan di Jawa telah memberikan perhatian terhadap pengelolaan pertanian.
Menurut Sumani, budaya bertani masyarakat Jawa juga melahirkan nilai-nilai sosial seperti gotong royong. Para petani saling membantu dalam proses pengolahan lahan maupun penanaman secara bergiliran, sehingga tercipta solidaritas antarwarga.
Selain itu, masyarakat petani memiliki nilai religius yang kuat. Mereka meyakini bahwa keberhasilan panen tidak hanya ditentukan oleh usaha manusia, tetapi juga merupakan anugerah Tuhan. Karena itu, berbagai ritual syukuran menjadi bentuk rasa syukur atas hasil pertanian yang diperoleh.
Di sisi lain, kebiasaan masyarakat Jawa memanfaatkan limbah ternak dan sampah organik sebagai pupuk juga menunjukkan adanya kearifan lokal dalam menjaga kesuburan tanah. "Dulu masyarakat belum mengenal istilah pupuk organik, tetapi mereka sudah memanfaatkan kotoran ternak dan sampah organik untuk mengembalikan unsur hara ke tanah," katanya.
Sumani menambahkan, tradisi tersebut secara ilmiah terbukti mampu meningkatkan kualitas tanah karena bahan organik membantu memperbaiki struktur tanah, menjaga kelembapan, sekaligus menjadi sumber makanan bagi mikroorganisme yang berperan menyediakan unsur hara bagi tanaman.
Ia berharap nilai-nilai budaya yang berkembang dalam pertanian Jawa tetap dilestarikan meski teknologi pertanian terus berkembang. "Budaya dan teknologi tidak perlu dipertentangkan. Keduanya justru bisa saling melengkapi agar pertanian tetap produktif sekaligus berkelanjutan.” (Hil)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....