Kebiasaan Ubah Suhu AC, Bikin Umur AC Lebih Pendek?

  • 22 Jul 2026 11:36 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Saat cuaca sedang sangat terik, banyak pengemudi langsung memutar pengaturan suhu AC ke posisi paling dingin agar kabin cepat terasa sejuk. Sebaliknya, ketika hujan atau malam hari, suhu AC kembali dinaikkan agar udara di dalam mobil tidak terlalu dingin. Kebiasaan menaikkan dan menurunkan suhu AC seperti ini sering memunculkan pertanyaan, apakah tindakan tersebut dapat mempercepat kerusakan komponen AC mobil?

Jawabannya adalah tidak, selama pengaturan suhu masih dilakukan secara normal sesuai fungsi yang telah dirancang oleh pabrikan. Sistem AC mobil modern memang didesain agar pengemudi dapat mengatur temperatur kabin sesuai kebutuhan. Mengubah pengaturan suhu bukan berarti memaksa kompresor bekerja lebih berat setiap kali knop diputar, melainkan mengubah target suhu yang ingin dicapai di dalam kabin.

Pada mobil dengan AC digital atau climate control, sensor temperatur akan memantau suhu kabin secara otomatis. Ketika suhu yang diinginkan telah tercapai, sistem akan mengatur kerja kompresor, blower, maupun pintu pengatur aliran udara (blend door) agar temperatur tetap stabil. Oleh karena itu, sering mengubah setelan suhu dalam batas penggunaan normal tidak akan langsung menyebabkan kompresor, evaporator, maupun kondensor cepat rusak.

Sementara itu, pada mobil dengan AC manual, perubahan suhu umumnya dilakukan dengan mengatur campuran udara dingin dari evaporator dan udara normal melalui mekanisme pengatur suhu. Memutar knop temperatur sesekali untuk menyesuaikan kondisi cuaca juga merupakan penggunaan yang wajar. Komponen AC justru memang dirancang untuk menerima pengoperasian tersebut selama mekanismenya masih bekerja dengan baik.

Yang lebih berpotensi memperpendek usia komponen AC bukanlah kebiasaan mengubah suhu, melainkan kurangnya perawatan. Filter kabin yang kotor, freon berkurang akibat kebocoran, kondensor dipenuhi debu, kipas pendingin tidak optimal, hingga oli kompresor yang sudah menurun kualitasnya akan membuat sistem bekerja lebih berat. Kondisi inilah yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan kompresor cepat aus atau performa pendinginan menurun.

Selain faktor perawatan, kebiasaan memaksa AC bekerja pada kondisi mesin yang mengalami overheat atau membiarkan gejala kerusakan kecil tanpa segera diperbaiki juga dapat mempercepat kerusakan. Misalnya, suara kompresor mulai kasar, putaran magnetic clutch tidak normal, atau blower mulai melemah tetapi tetap digunakan terus-menerus. Masalah seperti ini jauh lebih berpengaruh terhadap umur sistem AC dibandingkan sekadar sering menaikkan atau menurunkan pengaturan suhu.

Ko Lung Lung Founder Dokter Mobil Indonesia berpendapat bahwa kebiasaan sering mengubah-ubah temperatur suhu memang tidak membuat komponen AC menjadi cepat rusak, akan tetapi akan membuat mesin mobil bekerja kurang efisien. Sebab AC telah memiliki mekanisme cut off ketika suhu di kabin sudah mencapai level dingin maka otomatis akan cut off, pengemudi tidak perlu melakukannya secara manual. Ketika suhu digeser-geser maka akan membuat kinerja kompresor AC menjadi lebih berat dan endingnya akan membebani kinerja mesin mobil sehingga membuatnya menjadi lebih boros.

(Ihsan Ramadhana)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....