CVT Mobil 20 Tahun Wajib Ganti Segelondong?

  • 21 Jul 2026 11:45 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Banyak pemilik mobil bertanya-tanya apakah transmisi otomatis jenis Continuously Variable Transmission (CVT) yang telah berusia lebih dari 20 tahun pasti harus diganti segelondong, meskipun selama ini selalu mendapatkan perawatan rutin. Anggapan tersebut cukup sering beredar di kalangan pengguna mobil matic dan membuat banyak orang khawatir akan biaya perbaikan yang sangat mahal. Namun, benarkah usia menjadi satu-satunya penentu kondisi sebuah transmisi CVT?

Pada kenyataannya, umur kendaraan bukanlah faktor utama yang menentukan apakah CVT harus diganti secara keseluruhan. Yang jauh lebih berpengaruh adalah riwayat perawatan, kualitas oli CVT yang digunakan, cara berkendara, beban kendaraan, hingga kondisi komponen internal seperti belt atau chain, pulley, bearing, valve body, dan pompa oli. CVT yang dirawat dengan benar sejak awal justru dapat bertahan hingga ratusan ribu kilometer tanpa perlu penggantian transmisi secara utuh.

Perawatan rutin memiliki peran yang sangat besar dalam memperpanjang usia transmisi CVT. Penggantian oli CVT sesuai interval yang direkomendasikan pabrikan, penggunaan spesifikasi oli yang tepat, serta menghindari kebiasaan berkendara yang kasar dapat meminimalkan keausan komponen di dalam transmisi. Selain itu, pemeriksaan berkala terhadap kebocoran oli maupun kondisi pendingin transmisi juga sangat membantu menjaga performa CVT tetap optimal meskipun usia kendaraan sudah lebih dari dua dekade.

Meski demikian, bukan berarti semua CVT berusia di atas 20 tahun pasti masih sehat. Jika sudah muncul gejala seperti hentakan saat akselerasi, putaran mesin tinggi tetapi kendaraan terasa lambat melaju, muncul suara mendengung, getaran berlebihan, atau indikator transmisi menyala, maka perlu dilakukan diagnosis secara menyeluruh. Dalam banyak kasus, kerusakan hanya terjadi pada beberapa komponen tertentu sehingga masih dapat diperbaiki tanpa harus mengganti satu unit transmisi lengkap.

Pergantian transmisi segelondong biasanya menjadi pilihan apabila kerusakan internal sudah sangat parah, misalnya belt atau chain putus dan menyebabkan kerusakan berantai pada pulley, rumah transmisi, hingga serpihan logam menyebar ke seluruh sistem hidrolik. Kondisi seperti ini juga bisa terjadi apabila mobil lama mengalami keterlambatan servis, menggunakan oli yang tidak sesuai spesifikasi, atau tetap dipaksakan berjalan meski gejala kerusakan sudah muncul sejak lama.

Di sisi lain, banyak bengkel spesialis transmisi CVT saat ini mampu melakukan overhaul atau rekondisi dengan mengganti komponen yang benar-benar mengalami keausan. Solusi ini seringkali lebih ekonomis dibandingkan mengganti transmisi segelondong, selama casing utama dan komponen vital lainnya masih dalam kondisi layak pakai. Oleh karena itu, pemeriksaan menggunakan alat diagnostik dan inspeksi mekanis menjadi langkah penting sebelum memutuskan jenis perbaikan yang diperlukan.

Ko Lung Lung Founder Dokter Mobil Indonesia satu pendapat bahwa usia transmisi CVT tidak didasarkan pada umur mobil. Meskipun terjadi kerusakan pada komponen transmisi CVT itu hanya pada beberapa parts seperti kampasnya, belt, atau pulley nya. Jadi apabila terjadi kerusakan cukup mengganti parts yang telah aus saja tidak harus mengganti secara keseluruhan atau segelondong. Perlu diketahui bahwa transmisi CVT ini pada mobil Indonesia sepertinya belum banyak yang telah mencapai usia diatas 20 tahun.

(Ihsan Ramadhana)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....