Ketahanan Pangan dari Rumah, Solusi Nyata Minim Limbah dan Tambah Penghasila

  • 24 Apr 2026 10:59 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari lahan luas atau skala besar. Pemanfaatan pekarangan rumah justru menjadi langkah sederhana namun efektif untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga sekaligus meningkatkan ekonomi rumah tangga.

Hal ini disampaikan oleh Martinus dari BNS Benawa dalam program Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, 14 April 2026, Ia menekankan bahwa konsep ketahanan pangan berkelanjutan bisa dimulai dari lingkungan terdekat, bahkan dari lahan yang sangat terbatas.

“Ketahanan pangan itu tidak harus menanam di sawah atau ladang. Lahan sekecil apa pun, bahkan tembok rumah, bisa dimanfaatkan untuk menghasilkan sumber pangan keluarga,” ujarnya.

Menurutnya, tantangan utama dalam membangun ketahanan pangan bukan pada keterbatasan lahan Melainkan pola pikir masyarakat yang masih bergantung pada bantuan.

“Tantangan terbesar itu merubah pola pikir masyarakat. Jangan hanya menunggu bantuan, tapi bagaimana bisa mandiri dan memanfaatkan apa yang ada di sekitar,” ucapnya.

Ia menambahkan, pemanfaatan pekarangan rumah dapat dimulai dengan tanaman sederhana seperti cabai, terong, kangkung, atau sawi yang mudah ditanam dan cepat dipanen. “Misalnya kangkung, dalam 21 hari sudah bisa dipanen. Bahkan bisa dipetik tanpa harus menanam ulang,” katanya.

Tidak hanya fokus pada produksi pangan, konsep yang diusung juga menekankan pengelolaan limbah agar tidak terbuang percuma. Limbah organik rumah tangga seperti sisa makanan dan daun kering dapat diolah kembali menjadi kompos atau dimanfaatkan dalam sistem budidaya lain.

“Limbah organik itu jangan langsung dibuang. Bisa diolah jadi kompos atau dimanfaatkan untuk budidaya maggot, yang nanti bisa jadi pakan ternak atau ikan,” ujar Martinus.

Ia menjelaskan bahwa sistem ini membentuk siklus berkelanjutan, di mana tidak ada limbah yang terbuang, melainkan terus dimanfaatkan kembali dalam rantai produksi pangan. “Kalau sistemnya sudah jadi, semua berputar. Dari lahan ke limbah, limbah ke maggot, lalu ke ternak atau ikan, dan kembali lagi ke lahan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Martinus menyebut bahwa jika dilakukan secara konsisten, pemanfaatan pekarangan tidak hanya mencukupi kebutuhan pangan keluarga, tetapi juga berpotensi menjadi sumber penghasilan tambahan. “Kalau konsisten, dalam tiga bulan sudah bisa menghasilkan. Bahkan minimal bisa menambah penghasilan keluarga,” ujarnya.

Ia mengajak masyarakat untuk mulai dari langkah kecil dengan niat yang kuat dan perencanaan sederhana. “Kuncinya niat dulu, lalu susun rencana. Tidak perlu langsung besar, yang penting mulai dulu dari yang ada,” katanya.

Program edukasi terkait ketahanan pangan ini juga terus dikembangkan melalui Rumah Edukasi BNS di wilayah Karanganyar yang terbuka bagi masyarakat umum untuk belajar secara langsung. Melalui pendekatan ini, diharapkan masyarakat tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri, tetapi juga turut berkontribusi dalam mengurangi limbah dan menjaga keberlanjutan lingkungan. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....