Tren Tumbler Sebagai Simbol Status

  • 07 Agt 2026 17:04 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Gejala orang Indonesia memakai tumbler besar berukuran masif kini menjadi gaya hidup populer, terutama di kalangan anak muda dan pekerja perkotaan. Tren ini tidak hanya berfungsi sebagai wadah minum untuk menjaga tubuh tetap terhidrasi dan memperkecil sampah plastik sekali pakai, tetapi juga telah bergeser menjadi simbol status sosial

Dikutip dari @Good News From Indonesia,beda dengan beberapa tahun lalu yang identik membawa coffee cup, sekarang justru tumbler jumbo yang wara-wiri di mana-mana.Fenomena ini bukan sekedar mengikuti tren. Di baliknya ada perubahan kebiasaan yang nyata: orang-orang mulai disiplin minum air putih, makin sadar memangkas sampah botol plastik, dan memelihara rutinitas sehat dari hal-hal kecil.

Di tengah gelombang kesadaran global akan krisis iklim dan isu lingkungan, tumbler atau botol minum yang dapat dipakai berulang kali telah muncul sebagai ikon penting dari gerakan ramah lingkungan. Tindakan sederhana membawa wadah sendiri untuk mengurangi sampah plastik sekali pakai acap kali dianggap sebagai bentuk advokasi pribadi terhadap keberlanjutan

Tumbler kini bukan lagi sekadar botol. Merek-merek kenamaan telah berhasil memposisikan tumbler tidak hanya sebagai alternatif ramah lingkungan, tetapi juga sebagai penanda identitas dan status sosial bagi pemiliknya. Melalui desain yang atraktif, edisi terbatas, dan harga premium, tumbler telah diangkat nilainya menjadi objek kapitalisme simbolis. Mereka sudah jadi barang hype, dirilis dalam edisi terbatas, dan harganya sering kali bikin dompet menjerit.

Generasi sekarang kena mental Fear of Missing Out (FOMO) parah. Mereka berbondong-bondong beli tumbler merek tertentu yang lagi viral di TikTok atau Instagram bukan karena butuh, tapi karena ogah dibilang ketinggalan zaman atau unaware. Intinya, tumbler ini dipakai untuk nge-flex (pamer). Tindakan membawa tumbler mahal di coffeeshop atau gym lebih tentang validasi sosial dibanding advokasi lingkungan.

Ironi mendalam muncul ketika hasrat konsumsi untuk mempunyai tumbler terbaru atau termahal bertentangan dengan prinsip inti lingkungan: mengurangi konsumsi (Princen, 2005). Ketika motivasi utama kepemilikan tumbler bergeser dari fungsionalitas dan kepedulian lingkungan menjadi simbolisme status, maka terjadi kesenjangan antara nilai yang terlihat dan realita perilaku sehari-hari.

Media sosial pun ikut mempercepat perubahan ini. Tumbler muncul di konten morning routine, office setup, hingga what’s in my bag—menjadi bagian dari identitas dan gaya hidup.Ternyata, budaya baru tidak selalu lahir dari sesuatu yang besar. Kadang dimulai dari kebiasaan sederhana kita: membawa air minum sendiri sebelum keluar rumah.

( Ria )

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....