Tiga Karya Tari Koreografer Muda Sikapi Keresahan Kehidupan
- 25 Jun 2026 20:18 WIB
- Surakarta
Poin Utama
- Tari Kontemporer
- Taman Budaya Jawa Tengah
- Koreografer Tari Muda
RRI.CO.ID, Surakarta - Tiga karya tari dari para koreografer muda asal Jawa Tengah dan Jawa Timur berhasil memukau penonton . Pergelaran tari yang dikemas dalam kegiatan rutin di Pendopo Wisma Seni Taman Budaya Jawa Tengah bertajuk Apresiasi Seni Tidak Sekedar Tari ( TST ), Rabu (24 Juni 2026) itu memang menjadi wadah para koreogarfer muda dalam menyusun gerak dalam pertunjukan tari. Tiga koreografer muda itu yakni Clairine Faiza Saharani Putri dari Tulungagung Jawa Timur dengan karya berjudul “ N YOH “, kemudian Adi Santosa dari Magelang menampilkan karya “ Srananing Jumedul “, dan Ayu Wardani asal Banyumas dengan karya berjudul Salam Jagad.
Pertunjukan TST kali ini mengangkat berbagai tema tentang kehidupan yang sarat makna emosional, sekaligus menggambarkan beban kehidupan yang kerap muncul dalam keseharian . Selain itu ada ritual doa , harapan dan semangat untuk menjalani kehidupan . Ketiga karya tari tersebut juga menggunakan pendekatan visual dan gerak, menawarkan pengalaman reflektif dan nyata bagi penonton. Sementara properti juga terlihat banyak digunakan oleh para koreografer sebagai pendukung karya seperti alat musik kendang , lilin , bambu dan pepohonan . Pertunjukan TST yang ke 19 kali itu dipadati penonton yang hampir semuanya berusia muda. Hal itu dikarenakan, saat ini anak-anak sekolah masih dalam liburan semester .
Di akhir pertunjukan diadakan diskusi santai dengan tiga penyaji atau tiga koreografer dipandu oleh Djarot Budi Darsono yang juga merupakan inisiator kegiatan TST . Dalam diskusi santai malam itu , Ayu Wardani , salah satu koreografer mengatakan karya Salam Jagat menceritakan tentang bagaiman menjaga lingkungan yang harmonis dengan menebar salam kepada orang tua , sahabat , ruang, kesempatan dan alam. Karya dengan menggunakan properti lilin sebagai simbol pelita kehidupan sangat ditonjolkan . Karya tersebut terwujud berawal dari sering padamnya lampu listrik di desa asalnya, ketika anak-anak sedang belajar .
“ Bahwa lilin bisa menjadi penerangan , meski terbatas dan bisa membakar manusia itu sendiri bila tidak bijak menggunakannya .” kata Ayu .
Sementara Tari Srananing Jumedul karya Adi Santosa dari Magelang menceritakan tentang perekonomian Indonesia yang sedang tidak baik-baik saja, kenaikan harga dan carut marut kehidupan rakyat bawah .
“ Keluarga saya tidak kaya, jadi dalam menyikapi ekonomi yang serba susah ini, kami harus bergumul dengan tubuh sendiri, berdoa agar segera mendapat kekuatan bekerja mengais rejeki , “ Kata Adi dengan lirih. Kesdihan itu Ia presentasikan dalam karya tari yang sarat dengan vokabuler gerak merintih dan tersakiti.
Berbeda dengan koreografer Clairine Faiza Saharani Putri dari Tulungagung Jawa Timur dengan karya berjudul “ N YOH “ . Ia menuturkan karya tersebut sebagai cara belajar nguri-uri tradisi gerak dengan Reyog kendang . Bahwa generasi saat ini harus belajar kepiawaian menari dengan musik kendang sebagai upaya pelestarian seni .
Di akhir diskusi Djarot Budi Darsono yang juga seorang koreografer senior itu menutup acara dengan himbauan kepada penonton dan generasi muda untuk terus berkarya di tengah keterbatasan dan perekonomian yang tidak stabil. ( Ita Wijayanti )
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....