Pasar Gede Solo, Denyut Perdagangan Buah dari Berbagai Daerah

  • 25 Agt 2026 19:44 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Di tengah denyut ekonomi Kota Solo, Pasar Gede tak hanya menjadi tempat bertemunya penjual dan pembeli. Di salah satu sudut pasar, tumpukan jeruk, semangka, hingga melon menjadi penanda perjalanan panjang buah-buahan dari berbagai daerah sebelum akhirnya sampai ke tangan masyarakat.

Jeruk yang diperdagangkan di Pasar Gede didatangkan dari Berastagi, Bali, hingga Malang. Sementara semangka dipasok dari sejumlah daerah di Jawa Timur dan Lampung. Adapun melon, salah satunya didatangkan dari Ngawi.

Salah seorang pedagang buah Pasar Gede, Syaifu, mengatakan sebagian pasokan buah menempuh perjalanan selama tiga hingga empat hari sebelum tiba di Solo. Kondisi tersebut membuat aktivitas perdagangan buah harus berjalan hampir tanpa mengenal waktu.

Menurut Syaifu, pasar grosir buah di kawasan Pasar Gede melayani perdagangan selama 24 jam. Kendaraan pengangkut yang datang sewaktu-waktu dapat langsung membongkar muatan untuk kemudian disiapkan memenuhi kebutuhan pasar.

“Karena sini 24 jam on time, jadi ndak pernah tutup. Jadi sewaktu-waktu datang langsung bisa dibuka," ujar Syaifu kepada RRI Selasa 25 Agustus 2026.

Dari Pasar Gede, buah-buahan kemudian kembali didistribusikan ke berbagai wilayah. Tidak hanya memenuhi kebutuhan pedagang di Solo Raya, sebagian pasokan juga dikirim hingga Purwodadi dan Pacitan.

Saat ini, permintaan buah juga datang dari pemasok yang mengambil komoditas untuk memenuhi kebutuhan dapur program Makan Bergizi Gratis.

Bagi Syaifu yang telah sekitar 25 tahun berdagang buah, menjaga kualitas menjadi bagian penting untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan. Namun, perjalanan distribusi yang panjang juga menyimpan risiko, terutama kerusakan buah akibat keterlambatan pengiriman maupun pengaruh kondisi cuaca.

Risiko tersebut turut dirasakan para pekerja. Kijan, salah seorang pekerja yang telah lebih dari sembilan tahun bekerja di Pasar Gede, setiap hari bertugas menata dan menyortir buah sejak pagi.

Menurutnya, keterlambatan kedatangan buah serta kondisi saat panen dapat memengaruhi kualitas komoditas yang diterima pedagang. “Kalau dari sana terlambat ya banyak rusak. Metiknya hujan, embun, enggak cocok.” ujar Kijan.

Di balik warna-warni buah yang memenuhi lapak, tersimpan mata rantai perdagangan yang panjang. Mulai dari kebun, perjalanan kendaraan pengangkut, tangan pedagang, hingga para pekerja yang menyortir setiap komoditas.

Pasar Gede pun terus hidup sebagai salah satu pusat grosir buah di Solo. Hasil bumi dari berbagai daerah bertemu dengan kebutuhan masyarakat, sekaligus menggerakkan roda perdagangan dan membuka lapangan pekerjaan setiap hari. (Lidia)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....