Melawan Sepinya Wisatawan, Kisah Dayat Bertahan Jaga Usaha Sewa Kuda Grojogan Sewu

  • 14 Agt 2026 22:35 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Karanganyar - Derap langkah kaki kuda di kawasan objek wisata Grojogan Sewu, Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, kini tak sekerap dulu. Di tengah lengangnya kunjungan wisatawan, para penyedia jasa sewa kuda terus berjuang merawat asa dan mata pencaharian yang telah dihidupi secara turun-temurun.

Salah seorang penyedia jasa sewa kuda di Grojogan Sewu, Dayat, menuturkan, dirinya telah melakoni profesi ini selama 11 tahun. Usaha tersebut merupakan warisan dari orang tuanya yang terus ia teruskan hingga saat ini dengan merawat kuda milik sendiri.

"Ini kan istilahnya meneruskan dari orang tua. Kuda punya sendiri, dirawat sendiri dari dulu di sini," kata Dayat saat ditemui di objek wisata Grojogan Sewu, Karanganyar, Beberapa waktu lalu.

Melakoni pekerjaan sebagai penyedia jasa sewa kuda di lereng Gunung Lawu tentu memiliki suka duka tersendiri. Dayat mengungkapkan, tantangan fisik paling berat terasa ketika memasuki musim hujan karena harus menembus cuaca dingin demi mencari pakan kuda.

"Ya namanya orang bekerja pasti ada suka dukanya. Dukanya kadang-kadang kalau cari makannya di musim hujan itu kan harus hujan-hujan pasti nyari makannya. Kalau sukanya ya kalau lagi ada sewa ramai itu kita duitnya mah ada," ujar Dayat.

Meski demikian, Dayat menyoroti kondisi objek wisata Grojogan Sewu saat ini yang terbilang sepi jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Menurutnya, penurunan jumlah pengunjung salah satunya dipicu oleh harga tiket masuk kawasan wisata yang dinilai kurang terjangkau bagi sebagian masyarakat.

"Saat ini sepi, karena tingkat masuknya enggak terjangkau atau terlalu mahal. Kalau dulu-dulu kan istilahnya harganya masih terjangkau, kalau sekarang mungkin banyak yang balik kanan karena harganya enggak terjangkau itu," katanya.

Ia menjelaskan, dengan tarif sewa kuda berkisar Rp50.000 hingga Rp60.000 untuk rute keliling perkampungan sekitar satu kilometer, pendapatan para pelaku usaha sangat bergantung pada ramai atau tidaknya wisatawan, terutama saat akhir pekan.

"Kalau ramai biasanya Sabtu, Minggu, sama weekend. Tapi kalau sekarang enggak bisa diceritakan, agak sulit karena pengunjungnya makin kurang," ucapnya.

Di tengah situasi tersebut, para pemilik kuda yang tergabung dalam paguyuban lokal tetap rutin menggelar pertemuan bulanan untuk menjaga kebersamaan. Dayat berharap ada kebijakan penyesuaian tarif tiket masuk agar pariwisata Grojogan Sewu kembali bergairah.

"Harapannya supaya kita bisa sama-sama maju, ya tiketnya itu mungkin dikurangi harganya, diturunkan, biar wisatanya itu jalan lebih menarik lagi," ujar Dayat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....