Peternak Ayam Bertahan di tengah Gejolak Harga Daging

  • 22 Jul 2026 14:54 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Suara riuh ayam dari dalam kandang menjadi bagian dari keseharian Parjuni. Di balik ribuan ekor ternak yang saban hari diberi makan dan dirawat, tersimpan perjuangan panjang untuk mempertahankan usaha di tengah fluktuasi harga daging ayam yang kerap tak bersahabat.

Parjuni, seorang peternak ayam yang menjalankan usahanya di wilayah Karanganyar, Sragen, dan Ngawi, saat ini mengelola populasi sekitar 20 ribu ekor ayam. Baginya, ketika harga ayam anjlok, persoalan tidak serta-merta selesai. Ayam tetap harus diberi pakan, kandang wajib dirawat, dan proses produksi harus terus berjalan.

Di sisi lain, pasar belum tentu mampu menyerap seluruh hasil ternak dengan harga yang menguntungkan. Kondisi harga yang naik turun ini menjadi tantangan tersendiri. Saat pasokan berlebih, harga ayam dapat jatuh drastis. Sebaliknya, ketika pasokan berkurang, harga justru melonjak dan membebani masyarakat.

Namun, di tengah situasi serba sulit tersebut, para peternak tidak tinggal diam. Salah satu langkah yang ditempuh Parjuni adalah memotong panjangnya rantai pemasaran.

Ia menjual sebagian hasil ternaknya secara langsung melalui kios dan jaringan ritel. Meski belum mampu menyerap seluruh total produksi, langkah ini efektif untuk mendapatkan harga jual yang lebih baik sekaligus mengurangi ketergantungan pada pedagang besar.

"Selain itu, kami juga mendorong pengolahan daging ayam menjadi produk siap konsumsi," ucap Parjuni, Selasa 21 Juli.

Ayam yang berlebih tidak harus seluruhnya dijual dalam kondisi segar, melainkan diolah menjadi produk turunan seperti nugget, sosis, maupun olahan makanan lainnya. Through inovasi ini, hasil produksi dapat terserap lebih luas, memiliki masa simpan lebih lama, sekaligus menjadi penyelamat saat harga ayam segar berada dalam tekanan.

Kendati demikian, upaya independen dari peternak tentu tidak cukup. Parjuni berharap pemerintah lebih tegas dan serius dalam mengatur keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan (supply and demand) pasar. Perhitungan jumlah bibit dan indukan yang masuk, menurutnya, harus menjadi acuan dasar untuk memprediksi angka produksi dan kebutuhan masyarakat di masa mendatang.

Dengan perencanaan yang matang, potensi kelebihan pasokan yang memicu jatuhnya harga maupun kelangkaan yang menyebabkan lonjakan harga dapat diantisipasi sejak dini.

"Daging ayam atau ayam broiler ini 80 persen sudah dikuasai perusahaan besar yang terintegrasi. Harusnya kita minta kepada pemerintah untuk mengatur pengendalian supply and demand itu. Peraturannya sudah ada, tinggal pemerintah menegakkan aturan kepada perusahaan-perusahaan yang ada agar berjalan sesuai regulasi. Contohnya, batasan bagi siapapun yang mempunyai populasi 60.000 per minggu," ujar Parjuni.

Pengawasan ketat terhadap rantai produksi hingga distribusi dinilai menjadi kunci utama. Para peternak amat membutuhkan kebijakan yang presisi demi menjaga harga tetap berada pada tingkat yang wajar—tidak terlalu rendah hingga mengancam peternak gulung tikar, namun juga tidak terlalu tinggi hingga membebani daya beli konsumen. (Lidia)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....