Ironi Kerusakan Jalan di Sragen, Kades Sampai 'Mandi Lumpur'
- 20 Jan 2026 13:37 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Sragen: Pemandangan memprihatinkan tersaji di wilayah terluar Kabupaten Sragen, tepatnya di Desa Ngepringan, Kecamatan Jenar. Mengenakan Pakaian Dinas lengkap, Kepala Desa Ngepringan, Narso, melakukan aksi "mandi lumpur" di tengah kubangan jalan kabupaten yang rusak parah.
Alih-alih mencari sensasi, aksi ini merupakan puncak kekecewaan lantaran merasa dianaktirikan oleh pemerintah daerah. Selama puluhan tahun jalan rusak tak pernah mendapat perhatian.
Insiden yang terekam kamera warga pada Selasa 20 Januari dan viral di jagat media sosial. Kejadian bermula saat Narso hendak berangkat menuju kantornya Selasa pagi.
Baca juga: Viral Kades di Sragen Mandi Lumpur di Jalan Berlubang
Alih-alih sampai dengan seragam bersih, ia justru tergelincir di jalan Mlale–Ngepringan yang merupakan akses vital di desa tersebut. Di jalan yang kondisinya mirip kubangan kerbau itu Narso terperosok, terlanjur basah, Narso pun mandi sekalian.
"Sebenarnya tidak sengaja protes, tapi tadi mau berangkat kerja malah kepleset. Ya sudah, sekalian adus, gebyur sisan (mandi sekalian). Tidak ada rencana, ini spontanitas," ujar Narso dengan nada satir.
Kades Narso bukan orang pertama korban terperosok ke jalan berlubang Mlale-Ngepringan. Menurut Narso, tak sedikit warganya yang sudah terperosok ke lubang jalan tersebut, anak sekolah maupun warga yang hendak ke pasar.
"Ada dua meter (lebar lubang), kedalaman ya satu lutut. Membahayakan anak sekolahz berangkat tidak pakai sepatu tidak pakai seragam, takut basah dan kotor," ucap Narso mengungkap kondisi yang terjadi selama ini.
Dia mengungkap fakta yang mencengangkan. Akses jalan sepanjang 6 kilometer tersebut diklaim terakhir kali mendapatkan pengaspalan dari Dinas Pekerjaan Umum (DPU) sekitar 24 tahun yang lalu. Sejak tahun 2019, kondisi jalan kian memburuk hingga mencapai titik nadir di tahun 2026 ini.
Narso menyoroti inkonsistensi pemerintah terkait anggaran. Ia menyebut sempat ada papan informasi yang menyatakan jalan tersebut dalam proses lelang untuk pembangunan tahun 2025, namun hingga memasuki tahun 2026. Ternyata warga terkena prank, janji pembangunan tersebut menguap begitu saja.
"Oalah mas, sudah bertahun-tahun. Katanya siap dibangun 2025, tapi sampai 2026 boten enten (tidak ada). 2024-2025 tidak dibangun," ucap Narso mengeluh.
Kritik tajam diarahkan pada dampak kemanusiaan akibat pembiaran infrastruktur ini. Kubangan sedalam lutut orang dewasa menjadi pemandangan sehari-hari bagi anak sekolah dan warga yang ingin mengakses layanan kesehatan.
Selain itu truk logistik kerap tersangkut, bahkan kendaraan kecil sering mengalami kerusakan mesin atau pecah bak oli akibat benturan lubang. Jalan rusak membuat warga merasa terisolasi.
Bahkan, sanak saudara dari luar daerah enggan berkunjung karena ngeri melihat akses jalan yang dianggap membahayakan nyawa. "Warga sini itu seperti terisolir mas, sampai punya keluarga yang di luar tidak mau ke sini karena akses (yang rusak)," kata Narso.
Narso menegaskan bahwa warga Ngepringan tidak menuntut kemewahan. Mereka hanya menuntut hak dasar atas akses jalan yang layak dan aman.
Dirinya mendesak Pemkab Sragen tidak lagi berkelit dengan alasan klasik keterbatasan anggaran untuk memperbaiki infrastruktur yang menjadi hal masyarakat yang telah rela membayar pajaknya.
"Mudah-mudahan segera diperhatikan. Tidak perlu bagus banget, yang penting rata, bisa dilewati, tidak becek. Mau aspal atau cor silakan, karena ini sudah parah banget," kata dia penuh harap.
Aksi Kades Narso"mandi lumpur" di kubangan jalan mendapat apresiasi warga. Salah satu warga Jenar Joko Paryanto menyampaikan tak banyak pemimpin yang rela berjuang untuk warganya.
Lanjut dia, dengan aksi tersebut keputusan ada di Pemerintah Kabupaten Sragen. Akankah aksi mandi lumpur sang Kades menjadi alarm bagi percepatan pembangunan, atau justru hanya akan menjadi tontonan viral. "Jalan kui ket biyen mung diukar-ukur wae, belum ada realisasi," ujar dia. MI
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....