Tak Sekadar Rekor MURI, Sambal Tumpang Harus Jadi Ikon Sragen
- 15 Feb 2026 20:32 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, SRAGEN - Ribuan warga tumpah ruah, menjadi saksi sekaligus pelaku sejarah dalam pemecahan rekor Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) kategori sajian sambal tumpang dengan peserta terbanyak di Kabupaten Sragen, Minggu 15 Februari 2026.
Acara bertajuk Festival Sambal Tumpang Nusantara ini tidak hanya menyedot perhatian warga lokal. Peserta dari Jawa Barat hingga Jawa Timur turut hadir, mengukuhkan posisi Sragen sebagai "punjer" atau pusat kuliner legendaris tersebut.
Namun tantangan baru harus dihadapi, yakni melestarikan warisan budaya ini. Sambal tumpang harus menjadi ikon Kabupaten dengan julukan Bumi Sukowati itu.
Rekor MURI ini diharapkan meneguhkan Sragen ya Sambal Tumpang. Layaknya Gudeg ya Jogja, lantas Pecel ya Madiun atau Baso ya Wonogiri.
Suasana Festival Sambal Tumpang Nusantara semakin meriah dengan kehadiran Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga serta Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Wihaji. Pulang kampung ke Kecamatan Plupuh kali ini terasa spesial bagi sang menteri.
Didampingi sang istri, Wihaji bahkan dipercaya untuk unjuk kebolehan memasak sambal tumpang di hadapan publik.
"Saya ke sini mau menikmati makan sambal tumpang. Saya diminta masak, didampingi istri saya, tapi sebenarnya saya lebih ingin ngobrol santai dengan warga," ujar Wihaji sembari menjanjikan hadiah bagi peserta.
Wihaji menekankan bahwa festival ini memiliki nilai strategis, terutama dalam membangun ekonomi kerakyatan dan mempererat hubungan keluarga di tengah gempuran teknologi.
"Acara seperti ini penting, minimal warga tidak pegang HP terus. Masak bareng, makan bareng keluarga. Membangun keluarga itu dimulai dari hal terkecil, salah satunya lewat ngobrol saat masak sambal tumpang," ucap mantan Bupati Batang itu.
Meski dikenal sebagai makanan basah yang cepat basi, masa depan sambal tumpang Sragen kini diproyeksikan lebih modern. Wihaji mengaku terkesan dengan munculnya inovasi sambal tumpang kemasan kaleng yang ia temui di lokasi.
"Tadi ada kemasan yang bisa dijadikan oleh-oleh khas Sragen. Dikemas dan bisa bertahan beberapa hari, seperti sarden itu," ucapnya.

Hal senada diungkapkan pengusaha kuliner kenamaan, Puspo Wardoyo. Menurutnya, sambal tumpang Sragen memiliki karakter unik karena penggunaan tempe yang lebih proporsional dibanding daerah lain seperti Boyolali. Namun, ia memberikan catatan penting soal daya tahan.
"Kalau dibawa ke saya, bisa diolah agar awet hingga 2 tahun," ucap Puspo.
Dia menekankan bahwa Pemkab Sragen tidak boleh berhenti pada rekor MURI semata. Tetapi harus berkomitmen menyediakan tempat khusus agar kuliner ini tetap lestari dan naik kelas menjadi oleh-oleh premium dengan sentuhan teknologi pengemasan.
Dengan pecahnya rekor hari ini, Sambal Tumpang kini bukan lagi sekadar menu sarapan di pinggir jalan, melainkan simbol identitas dan kekuatan ekonomi kreatif Sragen yang siap "Go National".
Bupati Sragen, Sigit Pamungkas menuturkan sambal tumpang bukan sekadar urusan perut. Ia menegaskan bahwa kuliner ini adalah fondasi kesehatan masyarakat.
"Sambal tumpang adalah bagian dari ketahanan keluarga. Ada protein dari kedelai, tahu, dan tempe. Ini adalah bagian dari menjaga ketahanan gizi anak-anak kita," ucapnya.
Dia pun meyakini bahwa 200 persen warga Sragen pasti sudah akrab dengan cita rasa pedas-gurih ini sejak kecil. "Tidak hanya orangnya, bayang bayangnya juga ikut makan sambal tumpang," kata dia sembari bergurau. MI