Perajin Tembaga Cepogo Boyolali Setop Ekspor karena Dolar Melambung

  • 11 Jun 2026 13:59 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Boyolali - Pasca nilai tukar Rupiah melemah terhadap Dolar mencapai Rp18 ribu lebih, beberapa pelaku usaha yang terbiasa melakukan ekspor barang mulai terdampak. Salah satunya para perajin tembaga yang berada di Tumang, Cepogo, Boyolali.

Sejumlah perajin terpaksa menghentikan sementara ekspor barang ke negara-negara yang menjadi rutinitas pengiriman, karena kenaikan harga bahan baku yang sebagian besar masih bergantung pada impor.

Ditemui secara langsung pada Selasa, 9 Juni 2026, pemilik Pande Tembaga, Rina Ambarwati mengaku kenaikan nilai tukar dolar, membuat harga bahan baku meningkat hingga sekitar 10 persen.

"Dampaknya terasa bangat, orderan dari luar negeri dicancel semua enggak jadi karena bahan baku naik semua. Naiknya hampir 10 persen. Para negara yang meng-order meminta dicancel dulu, nanti lain waktu kalau harga sudah normal pasti order lagi," kata Rina Ambarwati.

Dikatakan Rina bahwa usahanya tersebut terbiasa melalukan ekspor ke dua negara, yakni Amerika dan juga Belanda. Terkait penyetopan sementara tersebut, membuat dirinya mengalihkan penjualan ke pasar lokal.

Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar ini juga membuat para perajin harus mengganti ketebalan bahan baku lebih tipis dari biasanya. Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi kenaikan harga bahan baku yang memang selama ini dibeli dari negara luar.

Meskipun mengurangi ketebalan bahan baku, namun ditambahkan Rina Ambarwati bahwa segi kualitas hasil usahanya tetap masih sama tidak berbeda dari sebelumnya. Penggunaan bahan yang lebih tipis tersebut ditegaskan Rini juga sudah melewati persetujuan dari para pemesan.

"Antisipasinya kita menggunakan bahan yang lebih tipis, dari biasanya bahan 08 atau 07 berganti ke 06. Bahannya lebih tipis tapi kualitas tetap sama. Ini juga dengan persetujuan para pembeli agar harganya masih bisa terjangkau. Terkait pasar lokal, belakangan ini kita kirim ke Malang, Bekasi dan Bogor," katanya menambahkan.

Sementara itu, Kepala Desa Tumang, Mawardi membenarkan dengan merosotnya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar mampu membuat para perajin tembaga di wilayahnya menjerit. Tidak hanya terkait penyetopan eskpor saja, melainkan juga ditambah bahan baku para perajin yang didapatkan dari hasil impor ikut melonjak harganya.

"Semua bahan baku para perajin rumahan ini adalah impor dan tidak lebih dari setengah tahun harganya sudah naik luar biasa. Kesepakatan yang sudah dilakukan dengan para pembeli juga akhirnya menjadi persoalan, setelah harga Dolar melonjak, dilaksanakan negosiasi ulang namun banyak yang merasa rugi. Kami hanya menunda kaitannya dengan kerja sama atau hubungannya dengan luar negeri, itu kami minta untuk dipertimbangkan kembali," ucap Mawardi.

Dijelaskan Mawardi juga bahwa selain penurunan harga Rupiah terhadap Dolar, efisiensi anggaran turut andil dalam menambah permasalahan. Pasalnya sebelum efisiensi, para pengrajin masih mendapatkan pesanan dari Pemerintah Daerah. Dirinya berharap kepada Pemerintah Pusat agar bisa memperhatikan para pelaku usaha atau masyarakat kecil.

"Pemerintah Indonesia tolong diperhatikan masyarakat kecil khususnya para pengrajin kami. Kalau pak Presiden mengatakan orang tidak menggunakan Dolar, memang kami tidak menggunakan tapi pembelian bahan bakunya semua dari luar negeri. Kami juga memohon kepada Pemerintah untuk bisa mengeluarkan bahan baku yang kualitasnya sama dengan kualitas yang dari luar negeri," ucapnya menambahkan. (JK)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....