Boyolali Bidik Predikat Kota Kopi
- 30 Mei 2026 18:13 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Kabupaten Boyolali mulai serius mengembangkan potensi kopi lokal sebagai kekuatan ekonomi baru daerah. Selama ini dikenal sebagai kota susu dan kawasan pertanian, Boyolali kini membangun identitas baru melalui program “Boyolali Menuju Kota Kopi”.
Potensi tersebut berkembang terutama di wilayah lereng Merapi dan Merbabu yang memiliki ketinggian serta suhu ideal untuk budidaya kopi arabika maupun robusta. Pemerintah bahkan memperoleh bantuan pengembangan kopi arabika seluas 500 hektare dari pemerintah pusat pada 2025.
Kepala Bidang di Dinas Pertanian Boyolali, Muhammad Busroni, mengatakan kopi Boyolali sebenarnya memiliki sejarah panjang sejak masa kolonial Belanda. Bahkan, sejumlah tanaman kopi peninggalan zaman Belanda masih ditemukan hidup hingga sekarang.
“Di masyarakat ada istilah kopi janda atau kopi zaman Belanda. Tanaman kopi lama itu masih ada dan menjadi bukti bahwa Boyolali punya sejarah kopi yang kuat,” ujarnya dalam dialog di Pro 4 RRI Surakarta, Kamis, 21 Mei 2026.
Menurut Busroni, kawasan sentra kopi Boyolali berada di Kecamatan Selo, Cepogo, Musuk, Tamansari, Gladagsari, hingga Ampel. Wilayah tersebut berada di dataran tinggi dengan ketinggian lebih dari 800 meter di atas permukaan laut sehingga cocok untuk pengembangan kopi arabika.
Selain bantuan 500 ribu bibit kopi arabika tahun lalu, pada 2026 Boyolali kembali mendapat bantuan pengembangan kopi robusta seluas 100 hektare.
Busroni menjelaskan pengembangan kopi tidak hanya berfokus pada budidaya, tetapi juga kualitas pascapanen. Petani didorong memahami proses panen merah, fermentasi, penjemuran, hingga penyimpanan agar cita rasa kopi tetap terjaga.
“Kalau kualitas hulunya baik, hasil akhirnya juga baik. Karena itu kami terus mendampingi petani, termasuk lewat grup komunikasi dan pelatihan,” katanya.
Ia menambahkan kopi Boyolali memiliki karakter rasa khas, mulai dari aroma floral hingga nuansa cokelat. Faktor lingkungan sekitar juga memengaruhi aroma kopi yang dihasilkan.
“Kopi itu menyerap aroma lingkungan. Kalau ditanam dekat tanaman buah, nanti aroma buah bisa muncul saat diseduh,” ucapnya.
Fenomena menjamurnya kedai kopi turut membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat. Tidak hanya petani, sektor pengolahan, kedai kopi, UMKM, hingga pemasaran digital ikut bergerak.
Busroni melihat tren minum kopi yang berkembang di kalangan anak muda menjadi momentum penting bagi kopi lokal Boyolali untuk berkembang lebih luas.
“Sekarang kopi bukan sekadar minuman, tetapi sudah menjadi gaya hidup. Ini peluang besar bagi petani dan pelaku usaha lokal,” katanya.
Pemerintah daerah juga mulai mendorong keterlibatan petani muda melalui pembentukan asosiasi petani milenial. Langkah tersebut diharapkan mampu memperkuat regenerasi petani sekaligus memperluas pasar kopi Boyolali.
Meski demikian, tantangan pengembangan kopi masih cukup besar, terutama menjaga kualitas produksi dan menghadapi faktor cuaca yang memengaruhi masa panen serta proses pengeringan.
Busroni berharap masyarakat ikut mendukung kopi lokal dengan membeli, menikmati, dan mempromosikan kopi Boyolali agar kesejahteraan petani terus meningkat.
“Dengan mendukung kopi Boyolali, kita ikut membantu petani sekaligus mendorong kemajuan ekonomi daerah,” ujarnya. (Hil)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....