Harga Pakan Naik Namun Telur Turun, Peternak Karanganyar Merugi

  • 07 Jul 2026 20:19 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Karanganyar - Usaha ternak ayam di wilayah Kabupaten Karanganyar dan sekitarnya saat ini tengah berada dalam fase yang sangat kritis akibat jatuhnya harga telur serta ayam pedaging di tingkat peternak.

Situasi sulit ini diperparah oleh lonjakan harga pakan ternak yang terus merangkak naik sehingga membuat para pelaku usaha mandiri mengalami kerugian finansial yang sangat besar.

Berdasarkan data di lapangan, harga komoditas telur ayam di kandang saat ini jatuh hingga menyentuh angka 18.000 rupiah per kilogram dari harga normal yang idealnya berada di kisaran 25.000 rupiah. Sementara itu, untuk komoditas ayam hidup jenis potong, harganya merosot tajam ke angka 12.500 rupiah per kilogram dari ambang batas aman sebesar 20.000 rupiah.

"Saya penginnya peternak ki yo digateke (diperhatikan,-red) pemerintah, Harga ki yo biar segeta pulih seperti semula. Karena harga pakan wae naik harga telur ataupun ayam pedaging kan turun semua," kata salah satu peternak asal Karanganyar, Wahyudi keapda wartawan, Selasa 7 Juli 2026.

Wahyudi mengatakan, apabila pemerintah tidak segera mengambil langkah taktis untuk menekan harga pakan, maka usaha para peternak lokal dipastikan akan gulung tikar dalam waktu dekat. Demi menjaga kelangsungan operasional kandangnya yang terus mengalami minus, ia bahkan terpaksa menyekolahkan aset berharganya ke lembaga pembiayaan.

"Sementara saya bertahan, digoleke pakan dipakani ko BPKB ko sertifikat (diberi makan dari BPKB dan Sertifikat,red-)," ucapnya.

Senada dengan peternak mandiri, Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat atau Pinsar Jawa Tengah mengonfirmasi keterpurukan ekonomi ini sudah melanda wilayah Solo Raya selama dua bulan terakhir. Kerugian kolektif yang diderita oleh para pengusaha unggas bervariasi mulai dari skala ratusan juta hingga menyentuh angka miliaran rupiah untuk sektor industri besar.

"Jadi ayam itu sampai mencapai harga Rp13.000 per kilo—ayam hidup, ya. Terus telur itu mencapai angka Rp17.000–Rp18.000 per kilo," ujar Ketua Pinsar Jawa Tengah, Perjuni.

Parjuni mendesak pemerintah agar menegakkan aturan pembatasan impor induk ayam demi mengontrol keseimbangan pasokan dan permintaan pasar berdasarkan data statistik nasional. Langkah regulasi yang tegas dinilai menjadi satu-satunya kunci utama untuk mendongkrak kembali harga jual komoditas di atas nilai Harga Pokok Penjualan.

"Tuntutan utamanya ya sebenarnya memang kita berharap harga ayam dan telur ini naik di atas HPP. HPP yang saat ini ada untuk petelur itu sudah Rp23.000," kata Parjuni.

Sebagai bentuk protes atas kondisi kelebihan pasokan yang ekstrem dan lemahnya daya beli masyarakat ini, para peternak sempat menggelar aksi simbolis membagikan puluhan kilogram telur segar. Melalui gelombang aspirasi tersebut, para peternak di Karanganyar berharap adanya intervensi pasar yang nyata agar roda perekonomian sektor perunggasan dapat kembali stabil.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....