Festival Wayang Kayu Nusantara Dorong Inovasi dan Regenerasi Seni Tradisi
- 04 Okt 2026 07:00 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Festival Wayang Kayu Nusantara di Kampung Seni Kentingan dan UMKM Asri, Jebres, Surakarta, menjadi ruang pengembangan inovasi pewayangan sekaligus regenerasi seni tradisi. Festival yang berlangsung 28 September hingga 2 Oktober 2026 tersebut melibatkan seniman muda dan anak-anak dari jenjang TK hingga SMA.
Wakil Wali Kota Surakarta, Astrid Widayani mengapresiasi penyelenggaraan festival yang menghadirkan tradisi melalui pendekatan kreatif sehingga tetap dapat dikenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
“Saya juga mengapresiasi banyak inovasi bagaimana budaya tetap kita jaga, tetap kita lestarikan dengan berbagai karya, berbagai bentuk, dan alhamdulillah bisa diterima dengan baik dengan penuh antusias,” ujar Astrid Widayani pada Jumat 2 Oktober 2026.
Festival Wayang Kayu Nusantara merupakan program Dana Indonesia 2025 melalui pemanfaatan hasil kelola Dana Abadi Kebudayaan, Layanan Produksi Kegiatan Kebudayaan kategori Pendayagunaan Ruang Publik.
Salah satu inovasi yang ditampilkan yakni wayang purwa berbahan kayu yang dibuat pipih dan dapat digerakkan seperti wayang kulit. Pewarnaannya menggunakan teknik batik yang dirancang lebih tahan terhadap perubahan cuaca.
Selain pertunjukan, festival menghadirkan pameran dan workshop pembuatan wayang kayu. Keterlibatan anak-anak dan seniman muda menjadi bagian dari upaya mengenalkan seni tradisi sekaligus membangun proses regenerasi.
Astrid Widayani mengatakan kebudayaan tidak cukup hanya dipertahankan sebagai warisan masa lalu. Tradisi perlu dikenalkan dan dikembangkan agar dapat diterima serta diteruskan oleh generasi berikutnya.
“Warisan budaya itu salah satunya memberikan wawasan seluruh masyarakat, khususnya anak-anak kita, agar memahami pesan-pesan dari cerita sejarah maupun budaya terus dilestarikan sampai kapan pun, sampai masa mendatang,” katanya menambahkan.
Keterlibatan masyarakat tersebut terlihat di Kampung Seni Kentingan dan UMKM Asri yang berkembang sebagai ruang berkesenian sekaligus pemberdayaan masyarakat. Kawasan tersebut turut mengembangkan mural bertema wayang, UMKM, penghijauan, dan kegiatan edukasi seni.
Astrid menilai kreativitas dapat menjadi salah satu cara untuk membuat seni tradisi tetap relevan tanpa kehilangan identitasnya. Pada pembukaan festival, siswa Sanggar Wayang Gogon juga tampil membawakan Tari Gambyong Putri Solo. Keterlibatan mereka menjadi bagian dari pembelajaran sekaligus proses regenerasi di sanggar.
Puncak festival menghadirkan pertunjukan kolosal “Rajamala Tolak Balak” yang memadukan lima elemen seni dalam satu panggung, yakni wayang orang, seni tari, wayang golek, wayang kayu, dan wayang kulit. Lakon tersebut memadukan cerita pewayangan dengan sejarah Kota Solo. (JK)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....