Menjaga Folklore Jawa di tengah Perubahan Zaman
- 16 Sep 2026 10:19 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Folklore Jawa tidak sekadar berisi cerita tentang tokoh, kerajaan, tempat, atau makhluk tertentu. Di dalamnya tersimpan nilai kehidupan, pandangan masyarakat, serta pesan moral yang diwariskan secara turun-temurun.
Dosen Program Studi Sastra Daerah FIB UNS Surakarta, Dr. Siti Muslifah, S.S., M.Hum. pada Jagongan, 4 September 2026, menjelaskan Folklore berkaitan dengan tradisi lisan masyarakat. Tradisi tersebut disampaikan secara lisan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Menurut Siti, Folklor memiliki tiga bentuk, yakni Folklor lisan, sebagian lisan, dan bukan lisan. Tradisi lisan antara lain cerita rakyat, sedangkan bentuk sebagian lisan dapat ditemukan dalam berbagai tradisi masyarakat yang memiliki unsur lisan dan tulisan.
Sementara itu, Folklor bukan lisan dapat berupa aktivitas kebudayaan, seperti bersih desa, mitos, gugon tuhon, hingga berbagai petuah atau nasihat kehidupan. Keragaman tersebut menunjukkan bahwa Folklor tidak hanya hadir dalam bentuk cerita.
Siti mengatakan cerita rakyat juga memiliki berbagai jenis, seperti dongeng, legenda, dan mite. Dongeng lebih banyak mengandung daya khayal, sedangkan legenda berkaitan dengan asal-usul suatu tempat dan mite memiliki tokoh yang berkaitan dengan dunia manusia serta unsur supranatural.
Salah satu contoh legenda yang berkembang di masyarakat Jawa adalah cerita mengenai asal-usul Surakarta. Cerita tersebut berkaitan dengan perpindahan pusat kerajaan dari Kartasura dan pencarian lokasi baru yang kemudian dikaitkan dengan Ki Gede Solo serta nama Surakarta.
Menurut Siti, Folklor Jawa juga mencerminkan kepercayaan dan kehidupan masyarakat masa lalu. Kepercayaan terhadap tempat atau lingkungan tertentu, misalnya, secara tidak langsung dapat membentuk sikap untuk menjaga alam dan menghormati lingkungan.
“Folklor Jawa itu bagian dari kita,” kata Siti. Ia menilai pelestarian Folklor merupakan tanggung jawab bersama karena Folklor menjadi milik komunitas dan umumnya tidak diketahui siapa penciptanya.
Siti menambahkan, perkembangan teknologi dapat dimanfaatkan untuk mengenalkan Folklor kepada generasi muda. Cerita rakyat dapat dikemas melalui animasi, video, maupun permainan digital tanpa menghilangkan nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Ia menilai Folklor tetap penting dikenalkan meskipun generasi muda memiliki pengalaman dan cara pandang yang berbeda. Nilai seperti toleransi, kebijaksanaan, kebenaran, kebaikan, serta kemampuan mencari solusi masih relevan diterapkan dalam kehidupan saat ini.
Siti berharap Folklor Jawa terus dihidupkan, didokumentasikan, dan disebarluaskan agar tidak berhenti sebagai cerita masa lalu. Dengan cara tersebut, generasi muda dapat mengenal kembali kekayaan budaya sekaligus memahami nilai kehidupan yang diwariskan para leluhur. (Hil)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....