Sejarah Guling di Indonesia, dari Kasuran hingga Masa Kolonial
- 30 Agt 2026 21:37 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Guling menjadi salah satu benda yang nyaris selalu ditemukan di tempat tidur masyarakat Indonesia. Bentuknya sederhana, memanjang dan biasanya diletakkan berdampingan dengan bantal.
Menariknya, sejarah guling di Indonesia tidak sesederhana benda pengisi tempat tidur. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa guling telah hadir dalam cerita dan praktik masyarakat Jawa jauh sebelum menjadi perlengkapan tidur yang umum seperti sekarang.
Salah satu jejaknya ditemukan dalam penelitian Saifuddin Zuhri Qudsy, Irwan Abdullah, dan Zuly Qodir berjudul Kasuran dalam Beragam Sudut Pandang: Merunut Jejak-Jejak Cerita Tidur Tanpa Kasur di Dusun Kasuran. Penelitian yang diterbitkan dalam Kawistara, Vol. 5 No. 2, 2015 itu mencatat masyarakat Kasuran memiliki cerita turun-temurun mengenai kasur dan guling.
Dalam penelitian tersebut, salah satu versi cerita menyebut Sunan Kalijaga pernah singgah di Kasuran dan meminta kasur serta guling kepada warga. Catatan peneliti bahkan menyebut masyarakat setempat pada masa itu telah mengenal kasur, bantal, dan guling, meski kisah tersebut merupakan tradisi lisan yang tidak dapat dijadikan bukti tunggal mengenai awal munculnya guling.
Penelitian Qudsy, Abdullah, dan Qodir juga menemukan beberapa versi mengenai kebiasaan tidur tanpa kasur di Kasuran. Salah satunya mengaitkan tradisi tersebut dengan Sunan Kalijaga, sementara versi lain menghubungkannya dengan masa Perang Diponegoro dan ada pula pandangan yang menyebut kebiasaan itu telah ada sejak masa sebelum Islam.
Memasuki periode kolonial, guling kemudian memiliki cerita yang berbeda. Dalam berbagai catatan mengenai masyarakat Hindia Belanda, guling dikenal dengan istilah Dutch wife atau “istri Belanda”, sementara dalam bahasa Inggris benda ini dikenal sebagai bolster.
Kajian terbaru dari Universitas Negeri Medan juga secara khusus meneliti perkembangan guling atau Dutch wife pada masa kolonial Belanda 1885-1942. Waresgi Deardo Hutagalung dalam penelitian berjudul Perkembangan Guling “Dutch Wife” di Indonesia pada Masa Kolonial Belanda (1885-1942) menyebut guling berkembang melalui pertemuan budaya kolonial dan kebiasaan masyarakat lokal.
Dari benda yang awalnya memiliki cerita dan fungsi sosial tertentu, guling akhirnya diterima luas sebagai perlengkapan tidur masyarakat Indonesia. Sampai sekarang, guling tetap menjadi bagian dari kebiasaan tidur yang kuat, terutama di banyak keluarga di Jawa dan berbagai daerah Indonesia.
Sejarah tersebut menunjukkan bahwa guling bukan sekadar bantal berbentuk panjang. Perjalanannya memperlihatkan bagaimana sebuah benda sehari-hari dapat menyimpan jejak interaksi budaya, tradisi masyarakat, serta perubahan kehidupan sosial dari masa ke masa. (Arifin)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....