Makna Ringin Kembar di Alun-alun Keraton Surakarta
- 30 Agt 2026 21:32 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Dua pohon beringin yang berdiri di tengah Alun-alun Lor Keraton Surakarta bukan sekadar peneduh bagi warga yang melintas. Sepasang pohon yang dikenal sebagai ringin kurung sakembaran itu menyimpan simbol dan cerita panjang tentang tata kehidupan Jawa.
Beringin di sisi timur bernama Kyai Jayandaru, sedangkan yang berada di sisi barat disebut Kyai Dewandaru. Keduanya berada dalam pagar besi dan menjadi bagian penting dari tata ruang tradisional Keraton Kasunanan Surakarta.
Dalam kajian tata ruang Keraton Surakarta, pohon Jayandaru dan Dewandaru menunjukkan konsep dualitas yang menjadi salah satu karakter penting dalam penataan ruang keraton. Dr. Avi Marlina dari Universitas Sebelas Maret menjelaskan bahwa pasangan tersebut berada pada sisi timur dan barat Alun-alun Utara sebagai bagian dari pola ruang Keraton Surakarta.
Kajian lain memberikan penjelasan lebih jauh mengenai simbolisme ringin kembar. Dalam penelitian Yesy Wahyuning Tyas, “Analisis Nilai-Nilai Budaya dalam Tata Ruang Keraton Surakarta”, Universitas Indonesia, 2009, kedua pohon tersebut disebut melambangkan “loroning atunggal”, yakni dua unsur yang berjarak tetapi merupakan satu kesatuan yang sulit dipisahkan.
Makna tersebut sejalan dengan pandangan mengenai simbol dalam kebudayaan Jawa yang menempatkan pasangan atau dua unsur sebagai gambaran keserasian dan keseimbangan. Harsono dalam jurnal Kawruh: Journal of Language Education, Literature, and Local Culture tahun 2020 menjelaskan bahwa simbolisasi berpasangan dalam budaya Jawa berkaitan dengan nilai keserasian dan keseimbangan hidup.
Menariknya, istilah ringin kurung juga berkaitan dengan cara masyarakat Jawa memandang pohon beringin sebagai simbol pengayoman. Dalam kajian Harsono, istilah “Ringin Kurung Sakembaran” merujuk pada pohon beringin kembar yang ditempatkan di lingkungan keraton, terutama di kawasan alun-alun.
Sejarahnya juga tidak bisa dilepaskan dari perpindahan pusat pemerintahan dari Kartasura ke Desa Sala pada 1745. Sumber kajian sejarah menyebut pohon beringin tersebut dibawa dari Kartasura dan kemudian ditanam di Alun-alun Lor Surakarta sebagai bagian dari pembentukan ruang keraton yang baru.
Karena itu, ringin kembar bukan hanya bagian dari lanskap Alun-alun Keraton Surakarta. Keberadaannya menjadi pengingat tentang bagaimana masyarakat Jawa menyatukan sejarah, tata ruang, kekuasaan, keseimbangan, dan nilai pengayoman dalam sebuah simbol yang tetap hidup hingga sekarang. (Arifin).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....