Nguri-uri Budaya, Ratusan Warga Gentan Boyolali Gelar Tradisi Memetri Desa

  • 06 Sep 2026 19:27 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Boyolali – Ratusan warga Kampung Gentan, RW 05, Kelurahan Mojosongo, Kecamatan Mojosongo, Kabupaten Boyolali, kembali menggelar tradisi tahunan Memetri Desa pada Sabtu, 5 September 2026.

Tradisi turun-temurun yang rutin diadakan setiap bulan Mulud ini diawali sejak 25 Agustus 2026 lalu dengan aksi bersih makam dan lingkungan, yang kemudian dilanjutkan dengan kirab gunungan keliling kampung.

Ketua RW 05 Kampung Gentan, Widoyono, menyampaikan bahwa tradisi ini menampilkan dua gunungan utama, yakni gunungan hasil bumi dan gunungan apem. Hasil bumi mewakili simbol rezeki serta rasa syukur atas karunia melimpah, seperti pepaya, tembakau, jagung, hingga hasil peternakan sapi penggemukan yang menjadi andalan warga setempat.

Sementara itu, gunungan apem melambangkan permohonan ampunan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa bagi para leluhur maupun warga yang masih hidup.

"Memetri desa ini sebenarnya adalah agenda rutin yang kita laksanakan setiap tahun. Harapan kita dengan adanya memetri kampung ini warga kampung kita itu semakin guyub. Kemudian kita juga ini sebenarnya sebagai sarana untuk melestarikan atau nguri-uri adat budaya. Terus kemudian juga di samping itu ada syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala berkat, karunia, dan rezeki yang dilimpahkan kepada warga RW 5 Kampung Gentan ini," kata Widoyono.

Rangkaian acara diawali dengan kembul bujana atau makan bersama, kenduri dan doa bersama. Acara kemudian dilanjutkan pada malam hari melalui resepsi serta kirab gunungan dari tempat Palereman menuju lokasi resepsi untuk diperebutkan oleh warga sebagai sarana ngalap berkah.

"Nanti kita rebutkan. Rebutan itu nanti sebagai perlambang bahwa kita ngalap berkah. Dari apa hasil bumi dan juga apem yang kita perebutkan itu nanti merupakan berkah bagi warga yang memperebutkan itu," katanya menambahkan.

Di sisi lain, perayaan tahun ini dinilai berlangsung jauh lebih meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal itu dikatakan langsung Ketua Pelaksana, Ciptadi.

"Perbedaannya kelihatannya yang tahun ini lebih meriah, lebih gayeng karena peserta kirab di belakang hampir seragam dan melibatkan juga anak-anak, karang taruna, sama bapak-bapak sama ibu-ibu," ucap Ciptadi.

Ketua Pelaksana Acara, Ciptadi, menambahkan bahwa kemeriahan kirab ini murni merupakan partisipasi swadaya dari warga setempat tanpa melibatkan pihak luar.

"Sekitar hampir 100 lebih. 100 lebih itu cuman khusus warga RW 5. Jadi enggak ada orang luar. Hampir setiap RT itu mengirimkan beberapa warganya ikut berpartisipasi," ucapnya menambahkan.

Melalui kegiatan ini, warga Kampung Gentan berharap kebersamaan dan keguyuban antarwarga terus terjaga, serta seluruh masyarakat senantiasa dilimpahi kesehatan, keselamatan, dan rezeki. (JK)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....