Keraton Surakarta Gelar Upacara Adat Kelengkapan Jumeneng PB XIV Hangabehi

  • 05 Sep 2026 15:41 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat menggelar rangkaian prosesi upacara adat Hanjangkepi Jumeneng Ndalem ISKS Paku Buwono XIV Hangabehi. Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) sekaligus Pengageng Sasana Wilapa, GKR Koes Murtiyah Wandansari atau Gusti Moeng, memaparkan bahwa persiapan yang cermat dilakukan agar seluruh prosesi berjalan lancar.

"Persiapan sebetulnya satu minggu keseluruhan. Kami menginginkan supaya tidak ada yang tercecer," ungkap Gusti Moeng, Sabtu 5 September 2026.

Gusti Moeng menjelaskan bahwa seluruh tata cara upacara mengikuti protokol keraton yang merujuk pada catatan perpustakaan kuno, terutama terkait pengeluaran pusaka dan gamelan. "Semua protokol keraton itu kan dari gamelan ya. Jadi ada 13 perangkat gamelan yang kami keluarkan dan itu sesuai dengan yang kita baca di perpustakaan," ujarnya.

Dari belasan perangkat gamelan tersebut, terdapat satu momen istimewa di mana gamelan peninggalan era Sinuhun Pakubuwono IX dikeluarkan untuk pertama kalinya. "Ada satu yang dari zaman Sinuhun Pakubuwono ke-9, (sekitar) tahun 1872 saat beliau bertahta, baru keluar kali ini. Yang sekarang ada di Pradangga Lor itu, yaitu Kiai Udan Arum dan Udan Asih. Itu juga biasa dipakai mengiringi kalau beliau memainkan wayang, karena beliau pintar mendalang juga," ucap Gusti Moeng.

Selain pengeluaran pusaka, prosesi ini juga menegaskan keabsahan takhta melalui pementasan Tari Bedhaya Ketawang. Menurut Gusti Moeng, syarat keabsahan seorang raja sangat bergantung pada kesempurnaan pementasan sakral ini. "Itu memang pesan yang diturunkan khususnya dari Sinuhun ke-12, bahwa keabsahan Sinuhun yang bertahta di Mataram Surakarta itu harus bisa jumenengaken (menggelar) Bedhaya Ketawang tanpa ada kesalahan apa pun," ujarnya.

Prosesi inti kemudian berlanjut di Watu Gilang, tempat di mana raja mengucapkan sumpahnya untuk menjaga warisan budaya dan mengayomi keluarga besar keraton. "Intinya beliau bersumpah untuk meneruskan benang merah peradaban dari Majapahit, Demak, Pajang, dan Mataram. Beliau bersumpah untuk bisa menjadi pengayom dan pengikat semua sentana dan abdi dalem. Nah, di dalam tadi kita batasi saja yang datang ada 2.500 (orang)," kata Gusti Moeng.

Berbeda dengan perayaan keraton pada umumnya, prosesi kali ini tidak diiringi dengan tradisi kirab karena keraton tengah berfokus penuh pada penyelesaian ritual adat yang esensial. "Saya memang menyampaikan kepada pemerintah, dalam hal ini kepada Pak Menteri Kebudayaan supaya matur (menyampaikan) ke Bapak Presiden bahwa kami ini menyelesaikan upacara adat yang harus kami penuhi terlebih dahulu. Nanti kirabnya itu, insyaallah, (dilaksanakan) setelah selesai revitalisasi," ujar Gusti Moeng. (Ase)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....