Mengulik Sisi Manusiawi dalam “The Story of Pakubuwono II: Rise of The King

  • 29 Agt 2026 11:24 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Kisah Pakubuwono II tidak hanya tentang seorang raja dan berdirinya Keraton Surakarta Hadiningrat. Di balik sejarah tersebut terdapat perjalanan seorang manusia yang mengalami kehilangan, pelarian, kerinduan, hingga pergulatan batin.

Sisi manusiawi tersebut diangkat dalam karya The Story of Pakubuwono II: Rise of the King yang disutradarai R. Danang Cahyo Wijayanto, M.Sn. Karya ini tidak semata-mata menampilkan Pakubuwono II sebagai raja, tetapi menggali emosi dan perjalanan hidupnya.

Danang menjelaskan, Pakubuwono II merupakan sosok penting dalam sejarah Surakarta. Namun, dalam karya ini unsur politik dan kekuasaan sengaja ditipiskan agar penonton lebih dekat dengan sosok Pakubuwono II sebagai manusia.

“Dalam karya ini saya tidak mengangkat Pakubuwono sebagai raja, tetapi mengangkat Pakubuwono sebagai manusia,” ujar Danang dalam dialog program Jagongan Pro 4 RRI Surakarta, Selasa, 25 Agustus 2026.

Perjalanan Pakubuwono II digambarkan ketika dirinya kehilangan kerajaan pada usia muda, menjadi buronan, dan harus berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Masa sekitar dua puluh tahun di Ponorogo menjadi bagian penting dalam menggambarkan kerinduan dan pergulatan batinnya untuk kembali ke Surakarta.

Gagasan utama karya ini adalah perubahan. Perubahan tersebut dimaknai sebagai keberanian untuk mengubah diri, disertai keyakinan, kepedulian, pengorbanan, dan tanggung jawab terhadap rakyat.

Karya ini dikemas melalui kolaborasi berbagai unsur seni, mulai dari tari, akting, dialog, musik, lagu, tata cahaya hingga visual LED. Pendekatan tersebut membuat karya tidak secara khusus dikategorikan sebagai wayang orang, ketoprak, opera, maupun teater musikal.

Pemeran Pakubuwono II, Marhaendra atau Adif, jua mendapat tantangan untuk keluar dari zona nyaman sebagai seniman tari tradisi. Ia melakukan pendalaman karakter melalui riset sejarah, referensi visual, diskusi dengan sutradara dan seniman lain, serta mempelajari pengalaman para pemeran Pakubuwono sebelumnya.

Salah satu bagian yang menjadi tantangan bagi Adif adalah menggambarkan tekanan dan kerinduan Pakubuwono II setelah bertahun-tahun berada di Ponorogo. Emosi tersebut diwujudkan melalui perpaduan dialog, ekspresi, dan gerak tubuh.

The Story of Pakubuwono II: Rise of the King sebelumnya telah dipentaskan pada 2024 dan kemudian dikembangkan kembali dengan berbagai pembaruan pada 2026. Karya tersebut sukses dipentaskan pada Jumat, 28 Agustus 2026 pukul 19.30 WIB di Gedung Balai Kambang, Surakarta.

Melalui karya ini, penonton diajak melihat sejarah dari sisi yang lebih manusiawi sekaligus menemukan relevansinya dengan kehidupan masa kini. Kisah Pakubuwono II menjadi refleksi bahwa perubahan besar dapat dimulai dari keberanian untuk berubah, berkorban, dan menjalankan tanggung jawab. (Hil)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....