Makna Tradisi Midak Tigan dalam Perkawinan Adat Jawa

  • 24 Agt 2026 22:11 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta- Midak Tigan merupakan prosesi simbolik dalam perkawinan adat Jawa yang dilakukan setelah akad dan sebelum rangkaian panggih berikutnya. Pengantin pria menginjak telur ayam kampung menggunakan kaki kanan, kemudian pengantin perempuan membasuh kakinya dengan air bunga setaman.

Telur melambangkan awal kehidupan, kesuburan, dan harapan hadirnya keturunan dalam keluarga baru yang telah dibangun oleh kedua mempelai. Prosesi tersebut juga mengajarkan bahwa kehidupan rumah tangga membutuhkan tanggung jawab, kerja sama, kesetiaan, serta sikap saling menghormati.

Dalam tradisi Jawa, membasuh kaki suami sering dimaknai sebagai bentuk pelayanan, ketulusan, dan kesiapan menjalani kehidupan rumah tangga. Makna tersebut sebaiknya dipahami sebagai simbol kesepakatan dan kasih sayang, bukan pembenaran terhadap ketundukan perempuan secara mutlak semata.

Penelitian Universitas Muhammadiyah Surakarta menemukan prosesi injak telur mengandung pendidikan spiritual mengenai keharmonisan, keselamatan, perlindungan, serta keberkahan keluarga. Penelitian Universitas Negeri Medan juga menyebut injak telur mengajarkan tanggung jawab, penghormatan, komunikasi, dan kerja sama dalam keluarga.

Karena itu, Midak Tigan bukan sekadar ritual memecahkan telur, melainkan media untuk menyampaikan nasihat kehidupan kepada para pengantin. Telur yang pecah dapat dipahami sebagai lambang terbukanya kehidupan baru setelah pasangan resmi membangun rumah tangga bersama.

Air bunga yang digunakan membasuh kaki menghadirkan simbol kesucian, kesejukan, dan harapan agar perjalanan keluarga selalu berlangsung harmonis. Nilai utama prosesi terletak pada pesan moralnya, yaitu pasangan perlu saling melayani, menjaga komitmen, serta menyelesaikan persoalan bersama.

Tradisi Midak Tigan dapat terus dilestarikan dengan memahami makna simboliknya, sekaligus menyesuaikannya dengan nilai keluarga pada masa kini. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya menjalankan tahapan upacara, tetapi juga memahami pesan luhur yang diwariskan para leluhur.(Aris Murtono)

Sumber referensi:

  1. Andini, Ira Sefi, Mei Nita Simanihuruk, dan Mahfuzi Irwan. Tradisi Injak Telur dalam Adat Pernikahan sebagai Bentuk Komunikasi dan Pendidikan Masyarakat Suku Jawa. Journal Education for All, Universitas Negeri Medan, Vol. 13 No. 2, 2024, hlm. 52–59.
  2. Lestari, Puji. Aspek Pendidikan Spiritual dalam Prosesi Injak Telur pada Upacara Perkawinan Adat Jawa, studi kasus Desa Palur, Mojolaban, Sukoharjo. Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2013.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....