Jarik, Blangkon, dan Bahasa Diam Orang Jawa

  • 28 Sep 2026 15:22 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Di balik kain jarik dan blangkon yang dikenakan masyarakat Jawa, tersimpan cerita yang tidak selalu terucap lewat kata-kata. Keduanya bukan sekadar pelengkap penampilan, melainkan bagian dari budaya yang menyimpan nilai kesopanan, identitas, dan filosofi kehidupan. Menariknya, dari cara seseorang mengenakan busana tradisional ini, kita bisa mengenali jejak kebudayaan yang diwariskan secara turun-temurun.

Jarik yang dililitkan di pinggang memiliki kesan sederhana, tetapi cara pemakaiannya mencerminkan kerapian dan kesopanan. Sementara itu, blangkon yang dikenakan di kepala menghadirkan kesan berwibawa dan menjadi salah satu ciri khas busana pria Jawa. Perpaduan keduanya memperlihatkan bahwa masyarakat Jawa memiliki cara tersendiri dalam menyampaikan nilai kehidupan melalui penampilan, tanpa harus banyak berbicara.

Dikutip dari penelitian Evita Putri Yuwono, Sawitri, dan Adi Deswijaya dalam Indonesian Journal of Social Science (2025), Senin 28 September 2026 yang mengkaji makna blangkon gaya Surakarta sebagai representasi kehidupan masyarakat Jawa. Penelitian tersebut mengungkapkan bahwa blangkon tidak hanya berfungsi sebagai penutup kepala, tetapi juga mengandung nilai budaya, sosial, pendidikan, dan religi. Bentuk serta jenis blangkon Surakarta bahkan memiliki karakteristik tersendiri yang berkaitan dengan etika dan kepribadian masyarakat Jawa.

Menariknya, jarik dan blangkon juga memiliki perbedaan bentuk serta penggunaan sesuai dengan tradisi dan acara tertentu. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menjelaskan bahwa blangkon gaya Surakarta memiliki mondolan yang lebih tipis, sedangkan blangkon Yogyakarta berbentuk lebih bulat. Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa busana tradisional Jawa tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga menjadi penanda kekhasan budaya di setiap daerah.

Di tengah perkembangan mode modern, jarik dan blangkon tetap memiliki tempat dalam berbagai kegiatan adat, pernikahan, hingga pertunjukan seni tradisional. Keduanya menjadi pengingat bahwa budaya tidak selalu disampaikan melalui petuah atau nasihat, tetapi juga melalui benda dan kebiasaan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Barangkali, inilah bahasa diam orang Jawa: kesederhanaan dalam berbusana yang menyimpan cerita panjang tentang identitas, tata krama, dan warisan leluhur. (Bayuadi_LPU)

Referensi:

  • Yuwono, E. P., Sawitri, & Deswijaya, A. (2025). Makna di Dalam Bentuk Blangkon Gaya Surakarta sebagai Ajaran Hidup Masyarakat Jawa. Indonesian Journal of Social Science, 3(1), 17–23.

  • Sumarno (2018). Potrojayan: Kampung Pelestari Blangkon Surakarta. Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....