Nilai Budaya Jawa Dapat Mempererat Nasionalisme disaat Perubahan Zaman

  • 19 Agt 2026 23:39 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Nilai-nilai budaya Jawa dinilai memiliki peran penting dalam memperkuat nasionalisme dan menjaga kebersamaan masyarakat Indonesia di tengah perubahan sosial dan perkembangan teknologi. Nilai seperti rukun, gotong royong, tepa selira, saling menghormati, dan menjaga keharmonisan dapat menjadi perekat sosial dalam kehidupan berbangsa.

Hal tersebut disampaikan Dr. Mibtadin, S.Fil.I., M.Si dosen S-2 Kajian Budaya UNS dalam dialog Jagongan Pro 4 RRI Surakarta Jumat, 14 Agustus 2026 pagi mengenai nilai-nilai budaya Jawa dan nasionalisme. Menurutnya, budaya Jawa tidak hanya berfungsi sebagai identitas, tetapi juga memiliki nilai sosial yang dapat memperkuat rasa kebangsaan.

Mibtadin menjelaskan, budaya Jawa dapat dilihat sebagai identitas kebangsaan yang diwujudkan melalui etika dan perilaku masyarakat. Selain itu, budaya Jawa juga berperan sebagai perekat sosial melalui berbagai tradisi yang mendorong kebersamaan.

Budaya Jawa itu menjadi identitas kebangsaan. Ia menambahkan, nilai seperti tepa selira, saling menghormati, rukun, dan harmonis perlu terus dikedepankan untuk membangun kebangsaan dan kebersamaan.

Menurut Mibtadin, semangat kebersamaan tersebut dapat ditemukan dalam berbagai praktik kehidupan masyarakat Jawa. Tradisi kenduri, bancaan, sambang, layat, hingga jagong merupakan contoh ruang sosial yang mempertemukan masyarakat dan memperkuat hubungan antarsesama. “Itu adalah nilai-nilai budaya Jawa yang secara prinsip menguatkan nasionalisme. Bagaimana kita bersama rukun, guyub dan sebagainya,” ungkapnya.

Mibtadin menilai masyarakat perlu kembali mengenali akar budayanya agar semangat nasionalisme tidak kehilangan pijakan. Perubahan zaman dan modernisasi dinilai telah menggeser sebagian nilai budaya yang sebelumnya menjadi bagian dari identitas masyarakat.

Karena itu, penguatan budaya lokal perlu dilakukan bersamaan dengan upaya membangun kesadaran kebangsaan. Menurutnya, nasionalisme Indonesia seharusnya tidak tercerabut dari keragaman budaya yang menjadi karakter bangsa. “Politik kebangsaan itu adalah politik yang kemudian memayung bahwa kita tuh Indonesia, entah sukunya apa dan sebagainya, ya kita tuh Indonesia, bareng-bareng Indonesia,” kata dia.

Ia menilai tantangan yang dihadapi masyarakat adalah menggeser sikap yang terlalu berorientasi pada kelompok atau identitas masing-masing menuju semangat kebersamaan sebagai bangsa Indonesia. Keragaman, kata dia, dapat menjadi kekuatan sosial, tetapi juga berpotensi menjadi sumber konflik apabila tidak disertai kesadaran kebangsaan.

Penguatan nasionalisme juga dinilai perlu dilakukan sejak dini. Mibtadin menekankan pentingnya peran orang tua, sekolah, dan masyarakat dalam mengenalkan nilai kebangsaan kepada anak-anak.

Menurutnya, pendidikan nasionalisme tidak hanya berlangsung melalui kegiatan formal seperti upacara bendera di sekolah. Lingkungan keluarga dan masyarakat juga memiliki ruang masing-masing untuk menanamkan rasa kebangsaan, misalnya melalui kerja bakti, pengenalan sejarah, serta cerita mengenai perjuangan para pahlawan.

Di sisi lain, perkembangan media sosial perlu dimanfaatkan sebagai sarana pendidikan kebangsaan. Mibtadin melihat anak-anak dan generasi muda saat ini semakin dekat dengan media digital sehingga pengenalan budaya dan nasionalisme juga perlu mengikuti perkembangan tersebut.

“Bagaimana media sosial itu kemudian orang tua, sekolah dan masyarakat bisa menjadikan media sosial sebagai wahana, menjadi tool, alat untuk mengenalkan mereka pada rasa kebangsaan yang utuh,” imbuhnya

Menurutnya, generasi muda perlu dikenalkan dengan Indonesia, budaya, dan sejarah bangsanya tanpa harus menutup diri terhadap pengaruh budaya luar. Yang terpenting, keterbukaan tersebut tidak membuat generasi muda kehilangan akar kebangsaan dan budayanya.

Mibtadin juga mengingatkan bahwa nilai gotong royong, toleransi, dan kebersamaan sebenarnya tidak hanya dimiliki masyarakat Jawa. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki nilai yang dapat memberikan kontribusi terhadap pembangunan kebangsaan.

“Semangat gotong-royong, semangat tepa selira dan sebagainya sebenarnya bukan dalam konteks budaya Jawa sebenarnya. Semua budaya itu kan ada gotong-royong.

kata dia.

Karena itu, nilai budaya dari berbagai daerah perlu dihadirkan secara bersama sebagai kekuatan untuk mempererat persatuan. Keragaman Indonesia tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh, tetapi menjadi modal sosial dalam membangun kehidupan kebangsaan. (Nuri)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....