Njeng Sunan Rawat Budaya dan Toleransi
- 14 Sep 2026 11:16 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Komunitas Njeng Sunan memadukan zikir, selawat, mocopat, budaya Jawa, dan nilai nasionalisme. Hal itu dibahas dalam Obrolan Komunitas, Selasa, 8 September 2026, bersama Mufti Rahardjo Pustokodiningrat dan Hartoto Kusnin Dreya Sengara.
Pemerhati budaya Jawa, Mufti Rahardjo, mengatakan Njeng Sunan bergerak di bidang religius, budaya, dan nasionalis. Komunitas ini didirikan Hartoto untuk melestarikan sekaligus memperkaya nilai budaya masa lalu.
Hartoto menjelaskan kegiatan Njeng Sunan menggabungkan mocopat, doa Jawa, zikir, dan tahlil. Perpaduan tersebut diarahkan untuk menjaga nilai luhur budaya Jawa dan menarik minat generasi muda.
Saat ini, kegiatan rutin Njeng Sunan diikuti sekitar 100 orang dari berbagai keyakinan. Pesertanya antara lain berasal dari Buddha, Katolik, Kristen, Islam, dan kepercayaan Kapitayan.
Mufti menilai generasi muda justru menunjukkan ketertarikan terhadap budaya dan nilai kearifan lokal. “Anak-anak muda sekarang itu ternyata semakin cinta semakin suka,” kata Mufti.
Kegiatan Njeng Sunan dibuat dengan melibatkan seluruh peserta, bukan sekadar menjadi penonton. Peserta bersama-sama mengikuti doa Jawa, zikir, selawat, dan rangkaian tembang.
Kegiatan rutin digelar selapan sekali di Pesanggrahan Langenarjo, sebelah selatan Solo Baru. Rangkaian kegiatan mengusung konsep olah rasa, olah batin, dan olah jiwa.
Mufti mengatakan perbedaan dalam komunitas dihadapi dengan membangun harmoni, toleransi, dan sikap saling menghargai. “Secara umum memang perbedaan itu indah,” ujar Mufti.
Komunitas Njeng Sunan juga terbuka untuk masyarakat tanpa proses pendaftaran khusus. Hartoto mengatakan siapa pun dapat langsung hadir mengikuti kegiatan di Pesanggrahan Langenarjo. (CA)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....