Wayang Jadi Ruang Pertemuan Budaya Cina dan Jawa

  • 31 Jul 2026 22:04 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Pertemuan budaya Cina dan Jawa telah berlangsung selama berabad-abad dan meninggalkan jejak dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari kuliner, batik, hingga seni pertunjukan. Salah satu bentuk yang menarik adalah wayang, yang menunjukkan bagaimana dua kebudayaan dapat saling beradaptasi tanpa sepenuhnya kehilangan ciri masing-masing.

Hal tersebut mengemuka dalam acara Obrolan Komunitas, Kamis, 30 Juli 2026, yang menghadirkan Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum, Ketua Asosiasi Tradisi Lisan (ATL) Solo Raya sekaligus Dosen FIB UNS; Drs. Imam Sutarjo, M.Hum, dalang wayang kulit dan akademisi; Dr. Siti Muslifah, M.Hum, Dosen FIB UNS sekaligus peneliti wayang Cina; serta pengarang fiksi Hans Gagas.

Prof. Dr. Bani Sudardi menjelaskan, hubungan kebudayaan Tionghoa dengan Jawa bukanlah sesuatu yang baru. Interaksi panjang antara keduanya telah menghasilkan beragam bentuk akulturasi yang kini bahkan dianggap sebagai bagian dari keseharian masyarakat.

“Hubungan antara kebudayaan Tionghoa dengan kebudayaan Jawa ini memang sudah berlangsung berabad-abad,” ujar Bani.

Dalam dunia wayang, salah satu bentuk pertemuan tersebut terlihat pada Wayang Cina-Jawa atau Wacinwa. Menurut Bani, kesenian ini memadukan cerita dan unsur budaya Cina dengan lingkungan budaya Jawa. Bahasa maupun penyajiannya kemudian disesuaikan agar dapat dipahami masyarakat setempat.

“Supaya orang Jawa itu kalau melihat bisa memahami, bisa ikut tertawa, bisa ikut tersenyum. Nah, di antaranya ini akulturasinya,” ucapnya.

Sementara itu, Drs. Imam Sutarjo menilai akulturasi Jawa dan Cina memang sudah banyak terlihat dalam kehidupan budaya. Namun, khusus pada wayang kulit Jawa, pengaruh Cina pada penokohan maupun alur cerita belum terlihat secara kuat.

“Akulturasi budaya Jawa dan Cina ini memang dalam budaya sudah banyak, namun khususnya dalam pertunjukan wayang kulit ini belum terlihat yang sangat jelas, sangat substansi itu belum,” kata Imam.

Menurutnya, masyarakat Jawa justru menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pertunjukan bernuansa budaya Cina. Sebaliknya, apresiasi masyarakat keturunan Tionghoa terhadap pertunjukan tradisional Jawa dinilainya masih perlu ditingkatkan.

Karena itu, diperlukan ruang bersama agar kesenian dari kedua kebudayaan semakin sering dipertemukan. Wayang kulit, wayang potehi hingga kesenian lainnya dapat ditampilkan bersama sebagai bagian dari upaya memperkuat persatuan sekaligus memperluas apresiasi masyarakat.

Wayang Potehi Beradaptasi di Tanah Jawa

Peneliti wayang Cina, Dr. Siti Muslifah, menjelaskan salah satu bentuk penting perjalanan budaya Tionghoa di Nusantara melalui Wayang Potehi. Penelitiannya di Jombang menemukan keberadaan tradisi Potehi yang telah bertahan hingga beberapa generasi.

Wayang Potehi berbentuk boneka tiga dimensi yang dimainkan menggunakan kantong kain. Setelah berkembang di Jawa, bahan pembuatannya turut menyesuaikan dengan sumber daya lokal.

“Sampai di sini ya akulturasi dengan budaya sini. Kayunya adalah kayu waru gunung,” ucap Siti.

Potehi pada awalnya juga memiliki fungsi ritual. Ketika dimainkan di kelenteng, pertunjukan tetap berlangsung meskipun tanpa penonton karena ditujukan sebagai persembahan kepada dewa-dewi. Ceritanya dapat berkisar pada dewa, dinasti hingga kisah kepahlawanan Cina.

Bentuk akulturasi semakin terlihat ketika unsur Jawa masuk dalam pertunjukan. Pada Wacinwa, misalnya, karakter wayang tetap memiliki ciri visual Tionghoa tetapi dapat mengenakan unsur busana Jawa seperti blangkon dan gelungan. Musik pertunjukan pun dapat dipadukan dengan gamelan serta tembang Jawa.

Menariknya, jejak pertemuan dua budaya juga tersimpan dalam naskah Wacinwa. “Naskahnya beraksara Jawa, tetapi ceritanya cerita Cina,” ungkap Siti.

Menurut Siti, koleksi Wayang Cina-Jawa tersebut masih dapat ditemukan antara lain di Museum Sonobudoyo, Yogyakarta. Keberadaannya menjadi bukti bagaimana cerita dari satu kebudayaan dapat disampaikan menggunakan bahasa visual maupun tulisan dari kebudayaan lainnya.

Tradisi Perlu Dibuat Dekat dengan Anak Muda

Akulturasi Cina dan Jawa juga memiliki peluang besar untuk dikembangkan melalui sastra, film, dan media digital. Pengarang fiksi Hans Gagas mengatakan kekayaan budaya tersebut menyediakan banyak bahan cerita yang dapat diolah menjadi karya kontemporer.

Hans sendiri pernah menulis cerpen “Wayang Potehi, Cinta yang Pupus” yang mengangkat hubungan dua tokoh dari latar etnis dan agama berbeda dengan situasi politik 1998 sebagai latarnya. Cerpen tersebut kemudian menjadi salah satu materi pembelajaran bagi siswa kelas XI dan diadaptasi menjadi berbagai karya drama maupun film pendek oleh pelajar.

Bagi Hans, tantangan utama mengenalkan kembali tradisi kepada generasi muda bukan sekadar persoalan media, melainkan kemampuan membuat cerita yang dekat dengan kehidupan mereka.

“Kuncinya sebenarnya cuma satu, relate atau enggak dengan mereka,” ujarnya.

Menurutnya, keterhubungan menjadi penting karena generasi muda cenderung tidak tertarik jika tradisi hanya disampaikan sebagai sesuatu yang harus dilestarikan tanpa dikaitkan dengan kehidupan mereka.

“Kuncinya adalah menciptakan bahwa seni tradisi itu juga relate bagi mereka, termasuk tradisi Jawa dan Cina,” ucap Hans.

Perkembangan teknologi dan platform digital pun membuka peluang semakin luas bagi generasi muda untuk mengolah kembali kekayaan tradisi melalui tulisan, film pendek maupun bentuk karya kreatif lainnya.

Akulturasi Cina dan Jawa dalam wayang pada akhirnya bukan sekadar perpaduan bentuk, cerita, musik atau busana. Perjalanan panjang tersebut memperlihatkan bahwa kebudayaan dapat terus berkembang melalui perjumpaan dan penyesuaian.

Wayang pun menjadi salah satu ruang pertemuan budaya yang menunjukkan bahwa perbedaan dapat melahirkan karya baru sekaligus memperkaya identitas kebudayaan Nusantara.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....