Membawa Siluet Sejarah ke Era Modern, Saat Kethoprak Putri 'Matah Ati' Pikat GenZ

  • 30 Jun 2026 07:49 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Malam minggu di Kota Solo selalu punya cara sendiri untuk merayakan rindu. Solo yang menyandang julukan Kota Budaya itu selalu tersimpan rindu pada akar tradisi.

Seperti yang terjadi di Rumah Kita Baluwarti pada Sabtu 27 Juni 2026) mulai pukul 19.30 WIB lalu, bukan sekadar pentas kethoprak biasa. Malam itu, sekat antara masa lalu dan masa kini melebur dalam keindahan visual yang memukau lewat pertunjukan Kethoprak Putri "Matah Ati".

Kethoprak yang biasanya identik dengan durasi panjang dan pakem yang kaku, malam itu tampil beda. Di tangan para seniman, seni tradisi ini menjelma menjadi tontonan yang ringkas, dinamis, dan sangat "masuk" ke selera generasi muda dan GenZ.

Ada yang unik dari pementasan ini. Seluruh aktor yang naik ke atas panggung adalah perempuan.

Pertunjukan kesenian ketoprak Matah Ati di. Baluwarti, Paasarkliwon, Solo, Sabtu 27 Juni 2026. (Foto: RRI/Ardian)

Lalu, bagaimana dengan tokoh pria? Di sinilah letak magisnya inovasi panggung malam itu. Dua tokoh laki-laki dihadirkan bukan dalam wujud fisik langsung, melainkan melalui permainan siluet artistik yang didukung tata cahaya modern.

"Dadi wong wadon ora mung dadi kanca wingking (Menjadi perempuan itu tidak hanya sekadar menjadi teman di dapur)."

Potongan dialog tersebut menggema, membawa pesan kuat tentang emansipasi, keberanian, dan peran strategis perempuan dalam sejarah Jawa. Lewat lakon Matah Ati, penonton diingatkan kembali bahwa perempuan Jawa sejak dulu kala memiliki taji dalam kepemimpinan, sosial, dan budaya.

Langkah berani ini lahir dari tangan dingin Dhea Tika Anggraeni, peraih Bantuan Pemerintah Fasilitasi Pemajuan Kebudayaan (FPK) tahun 2026 dari Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X. Guna mewujudkan visinya, Dhea berkolaborasi manis dengan Rumah Kita Baluwarti yang dipimpin oleh Bambang Sugiharto.

Acara malam itu dibuka hangat oleh Budi Bodhot selaku penanggung jawab Rumah Kita Baluwarti. Usai decak kagum penonton mereda bersamaan dengan turunnya tirai panggung, acara tidak langsung usai. Suasana justru makin hangat dengan sesi diskusi bertajuk “Perkembangan dan Inovasi Pertunjukan Kethoprak” bersama narasumber Dr. Trisno Santoso, S.Kar., M.Hum.

Diskusi interaktif ini menjadi ruang refleksi bersama. Menurut Dhea Tika Anggraeni, pementasan ini adalah sebuah laboratorium kreatif.

"Pertunjukan ini tidak hanya bertujuan menghadirkan tontonan, tetapi juga menjadi ruang pencarian bentuk baru dalam seni kethoprak," ujar Dhea.

Ia menaruh harapan besar agar ke depan muncul pola-pola baru dalam pengembangan pertunjukan kethoprak, sehingga seni tradisi ini tetap punya tempat di hati generasi Z dan generasi penerus lainnya.

Inovasi segar ini turut memikat perhatian para pemangku kebijakan yang hadir duduk di kursi penonton. Di antaranya tampak Maretha Dinar Cahyono, S.E., M.M (Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surakarta), Ari Wibowo, S.Si.T., M.T (Camat Pasar Kliwon), serta Sri Winarni, S.Sos (Lurah Baluwarti).

Kehadiran mereka menjadi bukti nyata dukungan penuh lintas sektor terhadap napas baru seni tradisi di Surakarta.

Pada akhirnya, Kethoprak Putri Matah Ati malam itu mengirimkan pesan penting bagi dunia seni: merawat tradisi bukan berarti musti kaku menjaga bentuk lama secara utuh hingga berdebu.

Pelestarian sejati adalah keberanian untuk menghadirkan cara penyajian baru yang relevan dengan zaman, tanpa sedikit pun mencabut akar budayanya. Ardian

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....