Mahasiswa UNS Kenalkan Wajah Lain Bahasa Arab lewat Seni, Sastra, dan Budaya

  • 27 Jun 2026 02:49 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Bahasa Arab masih kerap dipandang sebatas bahasa agama dan identik dengan Al-Qur'an. Padahal, bahasa tersebut memiliki kekayaan sastra, seni, hingga budaya yang dapat dipelajari dan dinikmati masyarakat luas. Pandangan itulah yang ingin diubah oleh Komunitas Sastra Arab Universitas Sebelas Maret (UNS) melalui berbagai kegiatan edukasi dan pengembangan kreativitas.

Hal itu disampaikan oleh Muhammad Nafil, Hana Najwa Misayara, Muhammad Ilyas, dan Hilman Zidny dalam program Obrolan Komunitas RRI Surakarta. Keempat mahasiswa Sastra Arab UNS tersebut berbagi pengalaman sekaligus mengenalkan berbagai aktivitas komunitas yang bertujuan mendekatkan bahasa Arab kepada masyarakat.

Muhammad Nafil mengatakan, tantangan terbesar yang dihadapi adalah anggapan masyarakat bahwa bahasa Arab hanya berkaitan dengan ajaran agama.

"Banyak orang di Indonesia yang masih menganggap bahasa Arab itu identik dengan Al-Qur'an dan lain-lain. Padahal kita ingin menunjukkan bagaimana teater dari sastra Arab, lomba-lomba, dan berbagai kegiatan supaya bahasa Arab itu bisa lebih membumi," ujar Nafil.

Menurutnya, pembelajaran di Program Studi Sastra Arab jauh lebih luas dibandingkan yang dibayangkan masyarakat. Mahasiswa tidak hanya mempelajari tata bahasa, tetapi juga mendalami puisi, novel, lagu, hingga karya sastra Arab modern.

"Di kampus sendiri kita enggak cuma mempelajari Arab yang agama, tapi juga mempelajari puisi, novel-novel, lagu-lagu Arab yang memang di luar dari yang orang-orang ketahui terkait selawat," katanya.

Sementara itu, Muhammad Ilyas menjelaskan bahwa Komunitas Sastra Arab UNS menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengembangkan minat dan bakat melalui berbagai kegiatan, seperti teater, pidato, puisi, hingga organisasi.

"Kami ingin menunjukkan bahwa bahasa Arab bukan hanya tentang tata bahasa atau terjemahan, tapi juga memiliki kekayaan sastra, seni, teater, nilai kemanusiaan, dan budaya yang relevan dengan kehidupan kita saat ini," jelas Ilyas.

Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, komunitas tersebut juga memiliki program KISS AR Mengajar, yakni kegiatan mengajar di Taman Pendidikan Al-Qur'an (TPA). Melalui program tersebut, mahasiswa mengenalkan kosakata bahasa Arab kepada anak-anak menggunakan lagu dan permainan agar lebih mudah dipahami.

Tak hanya itu, Komunitas Sastra Arab UNS juga rutin menyelenggarakan Arabic Fair, sebuah kompetisi tingkat nasional yang menghadirkan berbagai perlombaan seperti debat bahasa Arab, pembacaan berita (Qiraatul Akhbar), pidato, kaligrafi, hingga syair.

Di bidang seni pertunjukan, mereka memiliki Teater OASE yang akan menggelar pementasan berbahasa Arab. Menurut Ilyas, pertunjukan tersebut tetap dapat dinikmati masyarakat karena panitia menyediakan terjemahan selama pementasan berlangsung.

"Harapannya masyarakat bisa melihat sisi lain dari sastra Arab. Tidak cuma membaca atau mendengar bahasa Arab, tapi juga melihat bahwa sastra Arab bisa membuat karya teater yang memanjakan mata dan menghibur," ungkapnya.

Di sisi lain, Hilman Zidny menilai masih banyak kesalahpahaman masyarakat terhadap bahasa Arab. Salah satunya adalah anggapan bahwa seluruh lagu berbahasa Arab bernuansa religi, padahal banyak di antaranya bertema umum seperti percintaan.

"Enggak semua yang Arab itu berbau agama. Itu yang sebenarnya perlu diedukasi," tegas Hilman.

Hana Najwa Misayara menambahkan, mempelajari bahasa Arab juga membantu seseorang memahami makna Al-Qur'an secara lebih mendalam, sebelum kemudian mengenal kekayaan sastra dan budayanya.

"Bahasa Arab membuat aku melihat bahwa kita tidak hanya membaca Al-Qur'an, tapi juga bisa memahami artinya, memahami tafsirnya. Dari situ kita kemudian bisa mengenal sastra, puisi, dan syairnya," tutur Hana.

Menutup perbincangan, Muhammad Nafil berharap masyarakat semakin terbuka terhadap bahasa Arab dan tidak lagi membatasi pemahamannya hanya pada aspek keagamaan.

"Jangan melihat Sastra Arab itu hanya fokus ke agama. Kita belajar bagaimana kesenian Arab itu ada, teater ada, pidato ada, syair ada, debat bahasa Arab juga ada. Kami berharap masyarakat bisa merasakan keindahan kata-kata dan kalimat dalam bahasa Arab," katanya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....