Generasi Muda dan Pelestarian Naskah Kuno
- 26 Jun 2026 08:18 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Naskah kuno tidak hanya menjadi peninggalan sejarah, tetapi juga menyimpan berbagai pengetahuan yang masih relevan hingga saat ini. Mulai dari sejarah, budaya, pengobatan tradisional, hingga ilmu arsitektur dan astronomi, semuanya terdokumentasi dalam manuskrip yang diwariskan para leluhur.
Pesan tersebut mengemuka dalam program Obrolan Komunitas RRI yang menghadirkan dosen filologi Universitas Sebelas Maret (UNS), Dr. Asep Yudha Wirajaya, M.A., bersama empat mahasiswi filologi, yakni Putri Aulia Nur Fauziah, Tiara Putri Maharani, Lutfia Hardiantari, dan Rezty Putri Ariana Gunarso.
Dr. Asep menjelaskan bahwa naskah kuno merupakan tulisan tangan yang berusia lebih dari 50 tahun dengan menggunakan aksara daerah maupun Arab. Menurutnya, naskah tersebut bukan sekadar dokumen tua, melainkan sumber pengetahuan yang mencatat kehidupan masyarakat pada zamannya.
"Naskah kuno itu adalah tulisan tangan yang usianya lebih dari 50 tahun, menggunakan aksara daerah atau aksara Arab. Isinya sangat banyak, bisa tentang sejarah, budaya, hingga ilmu pengetahuan yang sampai hari ini masih sangat relate dengan kehidupan kita," jelas Dr. Asep.
Ia menambahkan, keberadaan naskah kuno menjadi bukti bahwa masyarakat Nusantara telah memiliki peradaban yang maju jauh sebelum masa kolonial. Salah satu contohnya adalah pembangunan Candi Borobudur yang dinilai menunjukkan penguasaan ilmu arsitektur dan astronomi dengan tingkat presisi tinggi.
"Kalau pengetahuan itu kemudian hari ini tidak terwariskan, ya kita justru mundur ke belakang. Padahal semua itu sudah dicatat oleh nenek moyang kita," ujarnya.
Menurut Dr. Asep, tantangan terbesar saat ini bukan hanya menjaga fisik naskah, tetapi juga bagaimana mengenalkan isinya kepada generasi muda. Karena itu, pengkajian naskah kini mulai memanfaatkan teknologi digital, termasuk digitalisasi, kecerdasan buatan (AI), hingga alih wahana menjadi film, animasi, musik, maupun karya sastra.
"Bagaimana kita menarik minat Gen Z. Objeknya memang kuno, tetapi isinya kita angkat menggunakan berbagai software, bahkan AI. Ternyata responsnya sangat positif," katanya.
Pandangan serupa disampaikan Putri Aulia Nur Fauziah. Ia menilai generasi muda justru memiliki peluang besar untuk melestarikan naskah kuno melalui kemampuan mereka dalam memanfaatkan teknologi digital.
"Kita Gen Z yang potensial dengan teknologi bisa memanfaatkan naskah kuno melalui digitalisasi, kemudian dialihwahanakan menjadi film, musik, atau cerpen. Jadi naskah kuno bisa lebih menarik bagi anak-anak muda sekarang," ujar Putri.
Meski demikian, Putri mengakui proses mengkaji naskah kuno tidak selalu mudah. Selain menggunakan bahasa lama, banyak naskah yang kondisinya sudah rusak sehingga membutuhkan ketelitian tinggi dalam membacanya.
"Kalau kesulitan memang ada, terutama karena banyak tulisan yang tintanya sudah luntur atau kondisi kertasnya sudah rusak. Tapi itu bukan alasan untuk berhenti, justru harus terus mencari solusinya," katanya.
Sementara itu, Tiara Putri Maharani mengatakan teknologi digital berperan penting dalam pelestarian manuskrip. Digitalisasi membuat isi naskah dapat didokumentasikan sehingga tetap lestari meski kondisi fisiknya terus mengalami penurunan.
"Di filologi ada mata kuliah digitalisasi. Itu sangat berguna karena naskah kuno bentuknya fisik, sehingga perlu didigitalisasi agar bisa dilestarikan dan tidak hilang oleh waktu," ujar Tiara.
Pengalaman berbeda disampaikan Lutfia Hardiantari yang tertarik meneliti naskah-naskah sejarah. Menurutnya, manuskrip lama sering kali menghadirkan sudut pandang baru terhadap peristiwa sejarah yang selama ini hanya dikenal dari satu versi.
"Sejarah yang ditulis di naskah kuno membuka perspektif baru bagi kita di masa kini. Ada pengetahuan baru dan nilai-nilai yang bisa dipetik untuk kehidupan sekarang," ujar Lutfia.
Hal senada diungkapkan Rezty Putri Ariana Gunarso. Ia mengaku semakin yakin memilih bidang filologi setelah terlibat langsung mendigitalisasi naskah di sejumlah daerah di Jawa Tengah.
"Saya merasa ilmu yang kami pelajari ternyata sangat dibutuhkan. Masih banyak naskah di masyarakat yang belum dipublikasikan, belum diteliti, dan belum dieksplorasi," kata Rezty.
Ia menambahkan, pengalaman tersebut membuka wawasannya bahwa naskah kuno tidak hanya menyimpan sejarah lokal, tetapi juga memperlihatkan hubungan budaya Nusantara dengan wilayah lain, seperti cerita Panji yang berkembang hingga ke Melayu.
Menutup dialog, Dr. Asep mengajak masyarakat untuk mengubah cara pandang terhadap naskah kuno. Menurutnya, manuskrip tidak semestinya hanya disimpan sebagai benda pusaka, melainkan dipelajari agar manfaatnya dapat dirasakan oleh generasi sekarang maupun mendatang.
"Naskah kuno itu bukan pusaka yang harus dipuja-puja, tetapi pustaka yang harus dibaca dan dipahami isinya. Kalau bermanfaat untuk kehidupan hari ini dan masa depan, maka harus diamalkan sehingga menjadi tradisi yang hidup," katanya.
Melalui pemanfaatan teknologi dan keterlibatan generasi muda, pengkajian naskah kuno diharapkan tidak hanya menjaga keberadaan manuskrip sebagai warisan budaya, tetapi juga menghidupkan kembali pengetahuan yang tersimpan di dalamnya agar terus memberi manfaat bagi masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....