Wayang Kulit Tak Lekang Zaman, Butuh Minat Generasi Muda
- 24 Jul 2026 07:31 WIB
- Surakarta
RRI. CO. ID, Surakarta - Eksistensi wayang kulit sebagai warisan budaya Jawa menghadapi tantangan besar di tengah perkembangan teknologi dan arus budaya global. Meski demikian, para pelaku seni menilai wayang tidak kehilangan daya tariknya, melainkan membutuhkan pendekatan baru agar lebih dekat dengan generasi muda. Hal tersebut disampaikan Ajimas Bayu Pamungkas dari Paguyuban Dalang Muda Amarta dalam wawancara di program OBSI (Obrolan Siang) PRO1 RRI Surakarta, Rabu 22 Juli 2026.
Ajimas menjelaskan, Dalang Muda Amarta merupakan organisasi yang beranggotakan para pelaku seni pedalangan yang berdomisili di wilayah Solo Raya. Organisasi tersebut terbentuk sejak 2007 dan mulai menjalin kerja sama dengan RRI Surakarta pada 2008 melalui pagelaran wayang kulit rutin setiap bulan. Menurutnya, upaya menjaga keberadaan wayang tidak hanya menjadi tanggung jawab para dalang, tetapi juga masyarakat secara luas.
Menurut Ajimas, wayang masih tetap dikenal oleh generasi muda, namun bentuk apresiasinya mengalami perubahan. Banyak anak muda mengenal tokoh dan cerita wayang melalui media sosial, video pendek, maupun berbagai konten digital. Namun, untuk menikmati pertunjukan wayang secara utuh yang berlangsung semalam suntuk, sebagian generasi muda masih merasa kurang tertarik karena membutuhkan waktu yang panjang.
Salah satu upaya yang dilakukan para pelaku seni adalah menghadirkan inovasi seperti pakeliran padat. Pertunjukan ini menyajikan cerita wayang dengan durasi lebih singkat tanpa menghilangkan nilai dan esensi cerita. Selain itu, dalang juga mulai menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami masyarakat saat ini, termasuk mengangkat isu-isu kekinian agar pertunjukan terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ajimas menilai tantangan terbesar pelestarian wayang bukan terletak pada kualitas seni tersebut, melainkan bagaimana menumbuhkan minat masyarakat untuk mengenalnya lebih dalam. Menurutnya, wayang memiliki nilai refleksi kehidupan yang tetap relevan hingga sekarang. Di tengah rutinitas dan derasnya informasi digital, pertunjukan wayang dapat menjadi ruang untuk memperoleh ketenangan sekaligus memahami nilai kehidupan.
Ia juga menegaskan bahwa mengenal budaya Jawa, termasuk wayang, bahasa Jawa, aksara Jawa, dan berbagai tradisi lainnya merupakan bagian dari memahami identitas diri. Menurutnya, pelestarian budaya dapat dimulai dari lingkungan keluarga dengan mengenalkan budaya kepada anak-anak sejak dini. Tidak harus langsung menjadi dalang atau pelaku seni, tetapi memiliki pengetahuan dan rasa peduli terhadap budaya sendiri merupakan langkah penting.
Ajimas berharap masyarakat tidak hanya melihat wayang sebagai pertunjukan masa lalu, tetapi sebagai karya budaya yang terus berkembang. Ia mengajak generasi muda untuk membuka diri mengenal wayang melalui berbagai media yang tersedia saat ini. Menurutnya, menjaga keberlangsungan wayang bukan hanya tugas seniman, melainkan tanggung jawab bersama sebagai bagian dari masyarakat Jawa dan Indonesia. (Nana Ernawati)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....