Menari dalam Panggung Sehari-hari: Manifestasi Hidup Berkesadaran
- 30 Mei 2026 18:15 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Seni tari tradisional Indonesia, baik tari kerakyatan maupun tari klasik keraton, pada dasarnya bersumber dari satu konsep spiritual yang sangat kuat. Hal ini ditegaskan oleh Dewan Pakar Asosiasi Seniman Tari Indonesia (Aseti) Surakarta sekaligus seniman tari, Fajar Satriadi, S.Sn., M.Sn. Tradisi Jawa kuno tidak menggunakan kata "menari", melainkan istilah bekso yang memiliki makna harfiah hambek ing roso atau rasa yang bernafas.
Fajar menjelaskan dalam program Jagongan, Kamis 21 Mei 2026, melalui landasan filosofis tersebut, aktivitas menari sejatinya bukan sekadar olah fisik ansih di atas panggung pertunjukan formal. Gerakan raga merupakan bentuk latihan meditasi batiniah konkret yang menghubungkan kondisi internal manusia dengan makrokosmos.
Ketika seorang penari mampu menyatukan raga dan jiwanya, maka tarian tersebut akan memancarkan energi meditatif yang sangat dalam. Akar meditatif dari gerak tari klasik Jawa ini dapat dilacak secara nyata melalui struktur relief di Candi Borobudur.
Artefak sejarah tersebut memuat peninggalan berupa seven mudra atau tujuh gestur tangan kedamaian yang ikonik. Berbagai vokabulari gerak dasar dalam tari klasik hampir seluruhnya mengambil inspirasi dari sikap-sikap meditasi tersebut.
Sikap menyembah serta posisi kuda-kuda tanjak menjadi bukti visual bagaimana tubuh penari terkoneksi kuat dengan energi bumi. Dengan melatih penyatuan antara bentuk fisik (form) dan kedalaman rasa (unform) secara konsisten, keheningan sempurna dapat dicapai.
Kesadaran murni inilah yang kemudian melahirkan sebuah kebahagiaan sejati yang tidak lagi terikat oleh hukum sebab-akibat. Esensi batiniah dari konsep bekso tersebut pada akhirnya tidak lagi terbatas pada ruang panggung pertunjukan yang artifisial.
Nilai-nilai spiritual dari tari klasik sangat bisa diimplementasikan ke dalam panggung kehidupan masyarakat sehari-hari. Setiap individu dapat membawa ketenangan jiwa hasil olah rasa tersebut untuk menghadapi berbagai dinamika sosial.
Sebagai contoh, filosofi gerakan pucang kanginan menggambarkan sebatang pohon cemara yang bergerak lembut gemulai ditiup angin. Namun, bagian batang dan akar pohon tersebut tetap menancap sangat kokoh dan kuat ke dalam tanah. Gerakan dasar tari putri ini menjadi simbol ketangguhan mental manusia dalam menghadapi kerumitan masalah hidup.
Melalui bekal pengolahan batin dari seni tari, setiap orang dilatih untuk memiliki fokus tinggi dan ketenangan pikiran. Sumber dari segala permasalahan hidup sering kali berasal dari pikiran liar manusia yang tidak terkendali. Latihan menari secara tidak langsung melatih kita untuk menjinakkan pikiran liar tersebut agar kembali seimbang.
Selain membawa stabilitas jiwa bagi diri sendiri, penari yang matang juga mampu memancarkan welas asih (compassion) ke sekitarnya. Melalui perantara udara, getaran rasa yang tulus dari dalam hati akan tersampaikan langsung kepada sanubari para penonton. Hubungan batin inilah yang dalam tradisi seni di Jawa disebut sebagai kekuatan greget atau taksu.
Menari dalam keseharian pada akhirnya berarti membawa keindahan rasa untuk menghidupi kehidupan dengan penuh kesadaran. Fisik boleh saja melakukan aktivitas harian yang melelahkan, namun batin harus tetap berada dalam kondisi harmoni. Dengan demikian, seni tari bukan lagi tontonan mata belaka, melainkan tuntunan spiritual yang mendewasakan budi pekerti. (Hil)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....