Tanah Liat dan Keramik, Warisan Peradaban sejak Zaman Prasejarah
- 19 Jul 2026 23:11 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta- Tanah liat menjadi salah satu material alami pertama yang dimanfaatkan manusia dalam perjalanan peradaban. Sifatnya yang mudah dibentuk saat basah dan mengeras setelah dibakar menjadikannya bahan utama pembuatan berbagai peralatan rumah tangga, benda ritual, hingga karya seni.
Pada awalnya, manusia menggunakan tanah liat untuk membuat patung-patung kecil yang diduga berkaitan dengan kepercayaan dan simbol kesuburan. Seiring berkembangnya kehidupan menetap pada akhir zaman Paleolitik, tanah liat mulai dibentuk menjadi wadah untuk memasak, menyimpan air, dan menyimpan bahan pangan.
Bukti ilmiah mengenai keramik tertua di dunia diperoleh dari Gua Yuchanyan di Provinsi Hunan, Tiongkok. Penelitian yang dipimpin Dr. Elisabetta Boaretto dari Bar-Ilan University bersama Dr. Xiaohong Wu dari Peking University, Dr. Ofer Bar-Yosef dari Harvard University, dan tim internasional yang dipublikasikan dalam Proceedings of the National Academy of Sciences (PNAS) tahun 2009 menyimpulkan bahwa pecahan tembikar di situs tersebut berusia sekitar 18.300 hingga 15.430 tahun, menjadikannya salah satu bukti tertua teknologi keramik di dunia.
| Baca juga: Memaknai Tahun Baru Islam 1 Muharam |
Penelitian tersebut dilakukan melalui penanggalan radiokarbon terhadap arang dan kolagen tulang yang ditemukan pada lapisan tanah di sekitar pecahan tembikar. Hasil analisis menunjukkan bahwa keramik tersebut dibuat oleh kelompok pemburu-peramu, jauh sebelum manusia mengenal pertanian secara luas.
Teknik pembuatan keramik kemudian terus berkembang. Awalnya gerabah dibentuk dengan tangan menggunakan teknik pilin dan pijat, kemudian dibakar di api terbuka sebelum akhirnya manusia mengenal tungku pembakaran yang mampu menghasilkan suhu lebih tinggi sehingga kualitas keramik menjadi lebih kuat dan tahan lama.
Sekitar milenium keempat sebelum Masehi, masyarakat Mesopotamia mulai menggunakan roda putar (potter's wheel) untuk membentuk keramik secara lebih presisi. Inovasi tersebut mempercepat produksi dan menjadikan keramik sebagai bagian penting dalam kehidupan sehari-hari maupun perdagangan antarwilayah.
Perkembangan paling pesat terjadi di Tiongkok melalui penguasaan teknologi pembakaran suhu tinggi yang menghasilkan stoneware dan porselen. Menurut koleksi dan kajian British Museum, porselen Tiongkok kemudian menjadi komoditas perdagangan bernilai tinggi yang menyebar ke Asia, Timur Tengah, hingga Eropa dan memberi pengaruh besar terhadap perkembangan seni keramik dunia.
Di Indonesia, tradisi membuat gerabah telah berkembang sejak masa Neolitikum atau sekitar 2.500 hingga 1.500 sebelum Masehi. Berbagai temuan arkeologi menunjukkan bahwa masyarakat Nusantara memanfaatkan tanah liat untuk membuat periuk, kendi, tempayan, perlengkapan upacara, hingga bekal kubur, yang mencerminkan tingginya nilai budaya sekaligus fungsi praktis keramik dalam kehidupan masyarakat.
Hingga kini, tanah liat tetap menjadi bahan penting bagi kehidupan manusia, mulai dari kerajinan tradisional hingga industri modern seperti bahan bangunan, sanitasi, isolator listrik, dan biomaterial. Perjalanan panjang keramik membuktikan bahwa inovasi sederhana dari tanah liat telah menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan peradaban manusia dan terus relevan mengikuti kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. (Wiwik)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....