Sastra Wayang dalam Tradisi Indonesia

  • 24 Apr 2026 19:02 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Program siaran “Obrolan Komunitas” RRI Surakarta pada Kamis, 23 April 2026 membahas sastra wayang dalam tradisi Indonesia bersama narasumber Prof. Dr. Bani Sudardi, M.Hum. (Ketua HISKI Komisariat UNS Surakarta), Dr. Siti Muslifah, M.Hum. (Dosen Sastra Daerah FIB UNS Pakar Wayang China), Dr. Widodo Aribowo, M.Hum. (Dosen Kajian Budaya UNS), Adi Deswijaya, M.Hum. (Dosen UNIVET, Penulis Sastra Wayang). Sastra wayang dijelaskan sebagai bagian penting dari pertunjukan wayang, karena narasi cerita dalam wayang merupakan karya sastra. Hal ini ditegaskan oleh Bani Sudardi, bahwa wayang itu adalah seni pertunjukan, tetapi di dalamnya juga mengandung sastra karena narasinya merupakan karya sastra.

Wayang merupakan seni yang sangat kompleks, mencakup unsur sastra, visual, musik, hingga simbol kehidupan. “Wayang merupakan seni yang kompleks, mencakup berbagai unsur seperti musik, bahasa, dan simbol kehidupan.” kata Siti Muslifah. Cerita wayang umumnya bersumber dari Mahabarata dan Ramayana, tetapi telah mengalami adaptasi sesuai nilai budaya Indonesia.

Perkembangan sastra wayang berlangsung dinamis. Modernisasi seperti penggunaan teknologi visual dinilai membantu generasi muda memahami wayang. Namun, ada pandangan kritis bahwa hal tersebut justru dapat mengurangi esensi. “Sastra wayang adalah salah satu metode untuk mencerna wayang yang sangat kompleks.” ucap Widodo Aribowo.

Wayang juga mengalami berbagai transformasi, seperti penggunaan bahasa Indonesia, bentuk komik, hingga pertunjukan yang lebih singkat. Adaptasi ini dilakukan agar tetap relevan dengan generasi masa kini, tanpa meninggalkan nilai utama yang terkandung di dalamnya.

Dalam pewayangan, dikenal konsep pakem dan carangan. Pakem menjadi dasar cerita, sedangkan carangan merupakan kreativitas dalang dalam mengembangkan cerita. Peran dalang sangat penting karena harus menguasai berbagai aspek, mulai dari cerita hingga suasana pertunjukan.

Wayang sarat dengan nilai filosofis dan pendidikan karakter. “Sastra sendiri adalah alat untuk mengajar, dan wayang menjadi simbol kehidupan manusia.” ucap Adi Deswijaya. Oleh karena itu, wayang tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pembelajaran.

Sebagai warisan budaya yang telah diakui dunia, wayang menjadi identitas bangsa yang harus dijaga. Siti Muslifah juga menyampaikan bahwa wayang sudah diakui sebagai warisan budaya dunia, sehingga harus menjadi kebanggaan dan identitas bangsa.

Namun, tantangan yang dihadapi saat ini adalah menurunnya minat masyarakat terhadap pertunjukan wayang. Widodo Aribowo mengkritisi kondisi ini, “yang tidak maju adalah yang nanggap sekarang, seharusnya pemerintah memunculkan kembali animo masyarakat terhadap wayang.” ujarnya.

Kesimpulannya, wayang bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan yang mengandung nilai luhur dan kearifan lokal. Bani Sudardi menegaskan bahwa sastra wayang adalah cerminan dari dinamika wayang yang sudah ada sejak ribuan tahun lalu, sehingga penting untuk terus dilestarikan dan dikembangkan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....