Nyi Roro Kidul, Politik Jawa, dan Memori Perlawanan Budaya

  • 20 Jul 2026 10:35 WIB
  •  Surakarta

Oleh : Budhi Hartanto, ST., M.Si.

Pegiat budaya di PSTA Nunggak Semi Surakarta dan mahasiswa Program Doktor Ilmu Ekonomi FEB Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya.

RRI.CO.ID, Surakarta - Di pesisir selatan Jawa, ombak bukan sekadar fenomena alam. Bagi masyarakat Jawa, laut selatan sejak lama menjadi ruang budaya yang menyimpan berbagai makna tentang kehidupan, kekuasaan, dan hubungan manusia dengan alam. Dari ruang budaya inilah lahir salah satu legenda paling terkenal di Nusantara: Nyi Roro Kidul.

Nama Nyi Roro Kidul telah hidup selama berabad-abad dalam cerita rakyat, sastra Jawa, tradisi keraton, hingga budaya populer masa kini. Ia hadir bukan hanya sebagai tokoh legenda, tetapi juga sebagai simbol yang merekam perjalanan panjang peradaban Jawa.

Antropolog Indonesia, Koentjaraningrat, menjelaskan bahwa masyarakat Jawa memandang alam tidak semata sebagai lingkungan fisik, melainkan bagian dari tatanan kosmos yang memiliki hubungan erat dengan kehidupan manusia. Gunung, sungai, hutan, dan lautan memperoleh makna simbolik yang membentuk cara pandang masyarakat terhadap dunia. Dalam kerangka berpikir inilah Laut Selatan menempati posisi yang istimewa.

Karakter alamnya yang berbeda dari pesisir utara Jawa, ombak yang besar, serta bentang pantainya yang relatif liar melahirkan berbagai kisah yang diwariskan secara turun-temurun. Dalam tradisi lisan masyarakat pesisir, laut bukan hanya sumber penghidupan, tetapi juga ruang yang harus dihormati. Kesadaran budaya semacam itu kemudian melahirkan berbagai legenda yang menjelaskan hubungan manusia dengan kekuatan alam yang dianggap lebih besar daripada dirinya.

Sejarah menunjukkan bahwa legenda Nyi Roro Kidul tidak muncul dari satu peristiwa tunggal. Ia merupakan hasil percampuran berbagai tradisi lokal yang berkembang selama berabad-abad. Dalam Serat Centhini, salah satu karya sastra Jawa terpenting yang sering disebut sebagai ensiklopedia kebudayaan Jawa, Laut Selatan digambarkan sebagai ruang yang memiliki dimensi simbolik dan spiritual. Di dalamnya tercermin pandangan masyarakat Jawa mengenai hubungan antara dunia nyata dan dunia adikodrati.

Berbagai cerita rakyat kemudian memperkaya gambaran tentang sosok perempuan agung yang berkuasa di kawasan Laut Selatan. Seiring perjalanan waktu, kisah-kisah tersebut tidak hanya bertahan sebagai legenda rakyat, tetapi juga memasuki ruang politik kerajaan.

Ketika kerajaan-kerajaan Islam berkembang di Jawa, terutama pada masa Kesultanan Mataram abad ke-16 dan ke-17, legenda tersebut memperoleh makna politik yang lebih luas. Sejarawan M.C. Ricklefs menunjukkan bahwa konsep kekuasaan Jawa tidak hanya bertumpu pada kekuatan militer atau administrasi pemerintahan. Kekuasaan juga membutuhkan legitimasi budaya dan kosmologis yang dapat diterima masyarakat.

Pandangan serupa dijelaskan oleh Ong Hok Ham yang melihat bahwa raja dalam tradisi Jawa dipahami bukan sekadar penguasa politik, melainkan pusat keseimbangan kosmos. Dalam kerangka tersebut, hubungan simbolik antara penguasa Mataram dan Ratu Laut Selatan dapat dipahami sebagai bagian dari upaya membangun legitimasi kekuasaan sekaligus menyatukan berbagai kelompok masyarakat di bawah satu pusat otoritas budaya.

Pada masa yang sama, Jawa juga sedang mengalami perubahan besar. Denys Lombard dalam karya monumentalnya Nusa Jawa: Silang Budaya menjelaskan bahwa pergeseran pusat-pusat kekuasaan dari kawasan pesisir menuju pedalaman tidak terjadi karena satu sebab tunggal. Faktor perdagangan, politik, agama, dan perkembangan ekonomi agraris saling berinteraksi membentuk wajah baru peradaban Jawa. Dalam konteks itulah Mataram tumbuh sebagai kekuatan besar yang berupaya mengintegrasikan wilayah-wilayah yang beragam ke dalam satu identitas politik dan budaya.

Legenda Nyi Roro Kidul kemudian menjadi salah satu simbol yang menjembatani proses tersebut. Ia membantu membangun imajinasi kolektif mengenai hubungan antara raja, rakyat, alam, dan kekuatan-kekuatan simbolik yang diyakini menjaga keseimbangan kehidupan. Legenda bekerja bukan melalui hukum atau senjata, melainkan melalui makna yang diterima dan diwariskan bersama.

Ketika kolonialisme Belanda menguasai Jawa, banyak aspek kehidupan masyarakat berada di bawah kendali pemerintah kolonial. Namun budaya memiliki cara bertahan yang berbeda. Cerita rakyat tetap dituturkan, tradisi tetap dijalankan, dan simbol-simbol budaya terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam perspektif memori kolektif sebagaimana dijelaskan Maurice Halbwachs, masyarakat mempertahankan identitasnya melalui ingatan bersama yang terus direproduksi dalam kehidupan sosial. Tradisi, sastra, ritual, dan cerita rakyat menjadi sarana untuk menjaga kesinambungan identitas tersebut. Karena itu, legenda Nyi Roro Kidul dapat dibaca bukan hanya sebagai kisah mistis, melainkan juga sebagai bagian dari memori budaya Jawa yang terus hidup melampaui perubahan politik dan pergantian zaman.

Hingga hari ini, kisah tersebut masih hadir dalam berbagai bentuk. Ritual labuhan di lingkungan keraton tetap dilaksanakan sebagai tradisi budaya. Masyarakat pesisir masih menjaga berbagai etika yang berkaitan dengan laut. Sementara generasi muda mengenal Nyi Roro Kidul melalui film, novel, media sosial, dan berbagai produk budaya populer lainnya. Bentuknya boleh berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi maknanya tetap bertahan. Inilah yang membuat legenda tersebut tidak pernah benar-benar hilang dari ingatan masyarakat Jawa.

Pada akhirnya, perdebatan mengenai ada atau tidaknya sosok Nyi Roro Kidul mungkin tidak akan pernah selesai. Namun dari sudut pandang sejarah dan kebudayaan, yang lebih penting adalah memahami mengapa sebuah legenda mampu bertahan selama ratusan tahun, melampaui pergantian kerajaan, kolonialisme, hingga era digital. Seperti ombak Laut Selatan yang terus datang tanpa henti, legenda itu tetap hidup sebagai bagian dari memori panjang peradaban Jawa, bukan semata sebagai mitos, melainkan sebagai cermin hubungan antara budaya, kekuasaan, dan identitas masyarakat yang terus berubah, tetapi tidak kehilangan akar sejarahnya.


Daftar Pustaka

  1. Halbwachs, Maurice. 1992. On Collective Memory. Chicago: The University of Chicago Press.

  2. Koentjaraningrat. 1984. Kebudayaan Jawa. Jakarta: Balai Pustaka.

  3. Lombard, Denys. 2008. Nusa Jawa: Silang Budaya, Jilid I–III. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

  4. Ong Hok Ham. 2003. Wahyu yang Hilang, Negeri yang Guncang. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

  5. Ricklefs, M.C. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200–2008. Jakarta: Serambi.

  6. Ricklefs, M.C. 2013. Mengislamkan Jawa: Sejarah Islamisasi di Jawa dan Penentangnya dari 1930 sampai Sekarang. Jakarta: Serambi.

  7. Ranggawarsita. Serat Centhini (berbagai edisi terjemahan dan transliterasi).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....