Quiet Quitting Ramai di Media Sosial, Ada Apa dengan Pekerja Muda?
- 21 Apr 2026 10:28 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Istilah quiet quitting belakangan ramai diperbincangkan di media sosial, khususnya di kalangan pekerja muda. Meski terdengar seperti “resign diam-diam”, sebenarnya fenomena ini bukan berarti karyawan berhenti bekerja, melainkan tetap bekerja sesuai tugas utama tanpa memberikan usaha ekstra di luar tanggung jawabnya.
Secara sederhana, quiet quitting bisa dipahami sebagai cara karyawan menjaga batas agar tidak terjebak dalam kelelahan kerja atau burnout. Di tengah budaya kerja serba cepat dan tuntutan untuk selalu produktif, sebagian pekerja memilih fokus pada job desk inti sebagai bentuk perlindungan diri.
Fenomena ini tidak muncul begitu saja. Dalam jurnal Antara Realita dan Ekspektasi: Narasi Quiet Quitting pada Generasi Z di Kota Yogyakarta yang ditulis oleh Ergy Nehemia dan Doddy Hendro Wibowo dari Universitas Kristen Satya Wacana, disebutkan bahwa quiet quitting dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Mulai dari rasa tidak aman dalam pekerjaan (job insecurity), beban kerja yang tinggi, stres, hingga lingkungan kerja yang tidak sehat atau toxic workplace. Selain itu, kurangnya dukungan organisasi, minimnya peluang pengembangan karier, serta ketidakseimbangan antara kehidupan kerja dan pribadi (work-life balance) juga menjadi pemicu.
Menariknya, fenomena ini banyak dikaitkan dengan karakter Generasi Z yang memiliki cara pandang berbeda terhadap dunia kerja. Mereka cenderung lebih menekankan pentingnya makna kerja, fleksibilitas, serta keseimbangan hidup dibanding sekadar tuntutan produktivitas.
Di sisi lain, quiet quitting juga bisa menjadi sinyal adanya jarak antara ekspektasi karyawan dan realita di tempat kerja. Ketika komunikasi tidak berjalan dengan baik atau beban kerja terasa tidak seimbang, karyawan cenderung memilih “menarik diri” secara perlahan.
Penelitian tersebut juga menyoroti pentingnya komunikasi terbuka antara karyawan dan atasan. Karyawan diharapkan mampu menyampaikan ekspektasi secara realistis, sementara perusahaan perlu lebih memahami kebutuhan dan nilai kerja generasi muda saat ini.
Bagi organisasi, langkah pencegahan bisa dimulai dari hal sederhana, seperti memperjelas ekspektasi kerja, memberikan ruang dialog dua arah, hingga melakukan evaluasi rutin terhadap beban kerja dan sistem penghargaan. Lingkungan kerja yang suportif dan empatik dinilai menjadi kunci untuk menjaga keterlibatan karyawan.
Fenomena quiet quitting pada akhirnya bukan sekadar tren viral, melainkan refleksi dari perubahan cara pandang terhadap kerja itu sendiri. Di tengah dinamika dunia kerja modern, keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental menjadi hal yang semakin penting untuk diperhatikan, baik oleh karyawan maupun perusahaan. (Hil)
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....