Sebar Apem Yaqowiyu, Tradisi Sakral Masyarakat Jatinom Klaten

  • 06 Feb 2026 12:07 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta – Tradisi Yaqowiyu merupakan festival sebar apem tahunan yang dilaksanakan setiap bulan Safar. Hal itu diakukan sebagai bentuk sedekah dan syukur yang diwariskan oleh Kiai Ageng Gribik sejak abad ke-16.

Tradisi ini sejatinya telah berlangsung lebih dari 400 tahun. Pada tahun ini tradisi tersebut diperkirakan akan jatuh pada 31 Juli 2026 (15 Safar).

Melalui Obrolan Siang (OBSI) pada Kamis, 5 Februari 2026, Pro 1 RRI Surakarta menghadirkan KRT. Mohammad Daryanta Rekso Hastonodipuro. Ia merupakan Dewan Penasihat Yayasan Pengelola Pelestari Peninggalan Kiai Ageng Gribik (P3KAG), untuk membahas lebih mendalam mengenai tradisi Yaqowiyu di Jatinom, Klaten.

Nama “Yaqowiyu” berasal dari doa Ya Qawiyyu (Allah Maha Kuat), yang menjadi inti pesan spiritual tradisi ini. Daryanto menjelaskan nama Yaqowiyu ini diambil dari doa Ya Qawiyyu, yaitu memohon kekuatan kepada Allah SWT.

"Kuat jasmani, rohani, ilmu, dan ekonomi. Maknanya bagaimana kita sekarang bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan,” ucap Daryanta.

Menurutnya, apem yang dibagikan dalam tradisi ini memiliki makna filosofis dari kata afwun (ampunan). Ini melambangkan ajakan untuk saling memaafkan dan hidup dalam kedamaian.

Nilai tersebut menjadi pesan moral agar masyarakat membangun harmoni sosial melalui sikap rendah hati, saling memaafkan, dan menjaga persaudaraan. Pesan yang penuh makna bagi kehidupan kita saat ini.

Sedangkan Kiai Ageng Gribik dikenal sebagai tokoh dakwah Islam yang menyebarkan ajaran agama melalui pendekatan budaya. Dengan demikian Islam akhirnya dapat diterima masyarakat secara damai dan bijaksana.

"Tradisi Yaqowiyu pun berkembang sebagai media dakwah yang memadukan nilai Islam, kearifan lokal, dan budaya Jawa," ujarnya, menambahkan.

Prosesi Yaqowiyu terdiri dari rangkaian panjang, mulai dari persiapan bulan Safar, ritual spiritual seperti zikir dan tahlil, kirab budaya, hingga puncak acara berupa pembagian apem di lapangan Jatinom. Seluruh rangkaian dilakukan dengan nuansa religius, sakral, dan penuh tata krama khas budaya Jawa.

Daryanto mengatakan bahwa Yayasan P3KAG kini berperan menjaga keaslian tradisi melalui literasi sejarah, kerja sama dengan komunitas budaya, akademisi, pemerintah daerah, serta pelibatan generasi muda.

"Anak-anak dan remaja dilibatkan dalam seni, sejarah, dan aktivitas budaya agar tradisi tetap hidup lintas generasi," ujarnya.

Selain nilai spiritual dan budaya, Yaqowiyu juga berdampak pada sektor ekonomi dan pariwisata. Tradisi ini menggerakkan UMKM lokal, meningkatkan kunjungan peziarah, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat Jatinom dan sekitarnya.

Daryanta menegaskan pentingnya menjaga tradisi sebagai media dakwah, pelestarian budaya, dan penguat harmoni sosial. Ia mengajak masyarakat untuk terus merawat warisan ini dengan sikap santun dan beradab.

“Mari tradisi yang ada di Jatinom kita jaga bersama, kita kembangkan, dan kita manfaatkan sebagai media dakwah. Dakwah itu harus santun, dan tradisi harus tetap selaras dengan agama dan budaya,” katanya. (Citra)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....