Yaa Qowiyyu: Mengenang Warisan Dakwah dan Tradisi Sebar Apem di Jatinom, Klaten

  • 24 Jul 2026 11:41 WIB
  •  Surakarta

RRI.CO.ID, Surakarta - Di tengah kekayaan budaya Jawa yang sarat makna spiritual, terdapat satu tradisi unik yang terus dilestarikan secara turun-temurun di Kecamatan Jatinom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Tradisi tersebut adalah Yaa Qowiyyu, sebuah perayaan keagamaan dan kebudayaan yang identik dengan prosesi sebar apem (kue apem) yang diikuti oleh puluhan ribu masyarakat dari berbagai daerah setiap tahunnya.

Tradisi ini tidak sekadar perayaan meriah, melainkan manifestasi rasa syukur, ikatan sosial, dan simbol dakwah Islam yang ramah akulturasi di tanah Jawa.

Asal-Usul dan Sejarah Tokoh Ki Ageng Gribig

Tradisi Yaa Qowiyyu digagas oleh Ki Ageng Gribig (Wasi Bagus Harun), seorang ulama besar dan penyebar agama Islam di wilayah Jatinom pada abad ke-17 (Masa Kesultanan Mataram Islam).

Nama Yaa Qowiyyu diambil dari penggalan doa berbahasa Arab yang sering dipanjatkan oleh Ki Ageng Gribig untuk memohon kekuatan dan keselamatan kepada Allah SWT:


"Ya Tuhan Yang Mahakuat, Ya Tuhan Yang Mahaperkasa, kuatkanlah niat kami..."

Kaitan dengan Oleh-Oleh dari Tanah Suci

Dikutip dari beberapa sumber , salah satunya adalah Jurnal Kebudayaan Islam, Vol. 12(2). Tertulis cerita rakyat dan catatan sejarah lokal, tradisi ini bermula ketika Ki Ageng Gribig kembali dari menunaikan ibadah haji di Mekkah. Beliau membawa oleh-oleh berupa makanan sejenis apem untuk dibagikan kepada murid-murid dan masyarakat sekitar. Namun, karena jumlah makanan terbatas sedangkan masyarakat yang menyambut sangat banyak, istri Ki Ageng Gribig (Nyi Ageng Gribig) membuat kue apem tambahan dari adonan tepung beras. Setelah diberikan doa dan rasa syukur, kue-kue apem tersebut dibagikan dengan cara dilempar atau disebarkan kepada masyarakat yang berkumpul.

Makna Filosofis Tradisi Yaa Qowiyyu

Prosesi Yaa Qowiyyu menyimpan berbagai simbol filosofis mendalam:

  1. Makna Kata "Apem" (Afwun)
  2. Semangat Berbagi dan Kesetaraan
  3. Waktu Pelaksanaan (Bulan Sapar)

Kata apem diyakini diserap dari bahasa Arab afwun atau afwan, yang berarti ampunan. Tradisi ini mengajak masyarakat untuk saling memaafkan dan memohon ampunan kepada Tuhan.

Penyebaran kue apem melambangkan semangat kedermawanan. Tanpa memandang status sosial, semua orang berbaur bersama di lapangan untuk menerima rezeki dan keberkahan.

Upacara ini selalu dilaksanakan pada bulan Sapar dalam penanggalan Jawa (umumnya pada hari Jumat pertengahan bulan Sapar), sehingga sering juga disebut sebagai puncak acara Saparan Jatinom.

Naskah Doa Utama Ki Ageng Gribig:

"Yaa qawiyyu yaa 'aziiz qawi padhangnaa dininaa, yaa qawiyyu yaa 'aziiz qawi padhangnaa nagarinaa..."

Doa ini dipanjatkan agar rakyat diberikan kekuatan iman, ketenteraman hidup, serta kedamaian bagi bangsa dan negara.(Aditya Wardhana)

Referensi

  1. Geertz, C. (1976). The Religion of Java. University of Chicago Press.
  2. Kunto, S. (2014). Islam dan Kebudayaan Jawa: Interaksi Nilai Dakwah Ki Ageng Gribig di Jatinom Klaten. Jurnal Kebudayaan Islam, Vol. 12(2).
  3. Pemerintah Kabupaten Klaten. (Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Klaten). Monografi Tradisi Ya Qowiyu Jatinom.
  4. Simuh. (2003). Islam dan Mistisme Jawa. Jendela.
  5. Suhardjo, A. (2018). Nilai-Nilai Edukasi Budaya dalam Upacara Tradisi Ya Qowiyu di Kecamatan Jatinom Kabupaten Klaten. Jurnal Gelar: Jurnal Seni Budaya, ISI Surakarta.

(Membahas mengenai akulturasi nilai Islam dan tradisi lokal dalam kebudayaan Jawa).

(Mengulas sejarah perjuangan dakwah Ki Ageng Gribig dan pengaruhnya terhadap tradisi lokal).

(Dokumentasi resmi pemerintah daerah mengenai prosesi dan nilai cagar budaya takbenda Ya Qowiyyu).

(Kajian akademis mengenai makna etimologis apem/afwun dan bentuk-bentuk tradisi Islam kejawen).

(Studi etnografi mengenai nilai kebersamaan, gotong royong, dan kesetaraan sosial dalam tradisi Ya Qowiyyu).

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....