Ular Laut Indonesia Memiliki Bisa Kuat, Tidak Agresif terhadap Manusia
- 17 Mei 2026 14:09 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta - Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan hayati laut yang tinggi, termasuk beragam jenis ular laut berbisa yang hidup di perairan tropis. Keberadaan habitat laut yang luas membuat berbagai spesies ular laut dapat ditemukan di sekitar terumbu karang, pesisir, hingga kawasan padang lamun.
Pakar toksikologi satu-satunya di Indonesia, Dr. dr. Tri Maharani, M.Si., Sp.Em., Sub.Sp.Tok(K)., FICEP., FIMMA menjelaskan ular laut termasuk kelompok ular berbisa yang perlu diwaspadai meski perilakunya berbeda dengan anggapan banyak orang. Menurutnya, sebagian besar ular laut justru cenderung tidak agresif terhadap manusia.
"Ular laut umumnya tidak menyerang manusia tanpa sebab dan lebih memilih menghindar," kata Dr. Tri Maharani. Gigitan biasanya terjadi ketika ular merasa terganggu, terjepit, tertangkap jaring, atau disentuh secara langsung.
Ia menjelaskan selama ini banyak masyarakat mengira semua ular berbisa akan langsung menyerang manusia. Padahal sebagian besar ular, termasuk beberapa jenis ular laut, lebih sering menggunakan bisanya untuk berburu mangsa dan melindungi diri dari ancaman.
| Baca juga: Khasiat Ikan Dewa yang Jadi Lauk Wajib |
Mengenai cara kerja racun, Dr. Tri Maharani menerangkan bahwa bisa ular yang masuk ke tubuh tidak langsung menyebar melalui aliran darah seperti yang banyak dipahami masyarakat. Pada banyak kasus, penyebaran awal justru terjadi melalui sistem getah bening sebelum akhirnya masuk lebih luas ke dalam tubuh.
Dr. Tri Maharani menjelaskan bisa ular memiliki beberapa jenis racun dengan efek yang berbeda pada tubuh manusia. Neurotoksin menyerang sistem saraf dan dapat menyebabkan kelopak mata terasa berat, kelemahan otot, sulit menelan hingga gangguan pernapasan, sedangkan hemotoksin menyerang darah dan pembuluh darah yang dapat memicu perdarahan atau gangguan pembekuan darah.
Selain itu terdapat sitotoksin yang merusak sel dan jaringan tubuh sehingga menimbulkan pembengkakan, nyeri, hingga kerusakan jaringan di sekitar luka gigitan. Ada pula miotoksin yang menyerang otot, menyebabkan kerusakan jaringan otot dan pada kondisi berat dapat membebani kerja ginjal hingga menimbulkan gangguan organ.
Menurut Dr. Tri Maharani, korban gigitan ular laut paling sering berasal dari kelompok masyarakat yang beraktivitas di perairan. Nelayan, penyelam, pencari hasil laut, hingga masyarakat pesisir yang tanpa sengaja bersentuhan dengan ular saat menangani jaring atau hasil tangkapan menjadi kelompok yang perlu meningkatkan kewaspadaan. (Wiwik)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....