Asrul Sani Dinilai Tetap Relevan bagi Indonesia Masa Kini
- 21 Jul 2026 04:20 WIB
- Surakarta
RRI.CO.ID, Surakarta – Sosok sastrawan sekaligus budayawan Indonesia, Asrul Sani, dinilai masih memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sastra, perfilman, hingga pemikiran kebangsaan di Indonesia. Hal tersebut mengemuka dalam program Obrolan Komunitas RRI Pro 1 Surakarta pada Kamis, 16 Juli 2026, yang menghadirkan akademisi dari Universitas Sebelas Maret (UNS) dan Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.
Ketua Manasa Solo sekaligus Dosen Sastra Indonesia UNS, Dr. Asep Yudha Wirajaya, M.A., menjelaskan bahwa Asrul Sani bukan hanya dikenal sebagai sastrawan Angkatan '45, tetapi juga budayawan dan sineas yang meletakkan fondasi penting bagi perkembangan sastra dan perfilman Indonesia.
"Sastra bukan sebagai alat politik, tapi sastra adalah alat untuk memerdekakan manusia, untuk memanusiakan manusia," ujar Asep.
Menurutnya, keberanian Asrul Sani menyampaikan kritik melalui satire justru menjadi bukti kecintaannya terhadap bangsa.
"Orang yang berani mengkritik secara satir justru orang yang sangat cinta pada bangsanya," katanya.
Asep menambahkan, tema-tema yang diangkat Asrul Sani tetap relevan dengan kondisi Indonesia saat ini karena mampu menangkap berbagai persoalan sosial dan menyampaikannya melalui karya yang kritis sekaligus humanis.
Sementara itu, Kaprodi Film dan Televisi ISI Surakarta, Dwi Putri Nugrahaning Widhi, S.Sn., M.Sn., menilai kontribusi Asrul Sani terhadap perfilman Indonesia tidak kalah besar dibandingkan kiprahnya di dunia sastra.
Ia mengatakan, Asrul Sani tidak hanya menghasilkan skenario dan menyutradarai film, tetapi juga menulis buku-buku teori perfilman yang hingga kini masih menjadi rujukan dalam pembelajaran.
| Baca juga: Memperkuat UMKM Hadapi Tantangan Ekonomi |
"Kontribusi Asrul Sani ke dunia film cukup banyak. Beliau juga membuat beberapa buku yang kemudian menjadi pedoman untuk anak-anak film," ujarnya.
Menurut Dwi Putri, film Lewat Djam Malam menjadi salah satu karya penting yang wajib dipelajari untuk memahami sejarah perkembangan sinema Indonesia, sedangkan Naga Bonar menjadi contoh bagaimana karya sastra mampu melahirkan kritik sosial yang tetap relevan lintas zaman.
Dosen ISI Surakarta, Farhana Aulia, S.S., M.A., menambahkan bahwa keistimewaan Asrul Sani terletak pada kemampuannya berkarya di berbagai medium, mulai dari puisi, drama, skenario film, hingga penerjemahan teori perfilman.
"Asrul Sani tidak hanya berhenti sebagai penulis karya, tetapi juga menerjemahkan berbagai buku teori yang manfaatnya sangat besar bagi mahasiswa film," katanya.
Farhana juga menyoroti film Titian Serambut Dibelah Tujuh yang dinilai sarat dengan simbol dan metafora mengenai kemanusiaan, ketidakadilan, serta kritik terhadap kemunafikan sosial.
Senada, Dosen ISI Surakarta Anisa Putri Cahyani, S.Pd., M.Pd. menyebut Asrul Sani membawa pembaruan dalam sastra Indonesia melalui karya-karya yang lebih kritis dan realistis dibandingkan kecenderungan romantisme pada masanya.
Ia mencontohkan puisi Surat dari Ibu sebagai karya yang mengajarkan pentingnya menuntut ilmu dan merantau tanpa melupakan jati diri serta pengabdian kepada orang tua.
"Anak muda harus belajar, harus berpetualang, harus menempuh perjalanan sejauh-jauhnya, namun tidak boleh lupa dengan jati diri, identitas, dan kembali ke kampung halamannya untuk berbakti kepada orang tua," ucapnya.
Di akhir diskusi, para narasumber sepakat bahwa warisan terbesar Asrul Sani bukan hanya karya sastra maupun film, melainkan keberanian berpikir kritis, nasionalisme yang humanis, dan keyakinan bahwa seni harus memberikan manfaat bagi kehidupan masyarakat.
"Seni, sastra, film, dan budaya harus bisa memberikan nilai kemanfaatan sosial," kata Asep.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....